PHK INKA Banyuwangi: 1.600 Pekerja Kontrak Tak Dilanjutkan
BANYUWANGI — Ketua DPRD Kabupaten Banyuwangi I Made Cahyana Negara menyatakan prihatin atas pengurangan tenaga kerja di PT INKA Banyuwangi yang mencapai 1.600 orang. Pernyataan itu disampaikan setelah kunjungan Komisi I DPRD ke pabrik pada Jumat, 4 September 2026.
Pengurangan tenaga kerja dan dampak
Menurut Made, perusahaan tidak melanjutkan kontrak sekitar 1.600 pekerja. Keputusan ini meningkatkan risiko pengangguran lokal dan menekan pertumbuhan ekonomi daerah.
"Di PT INKA Banyuwangi ada pengurangan tenaga kerja sekitar 1600 orang. Kontrak kerja mereka tidak dilanjutkan."
Made meminta perhatian serius dari pemerintah daerah dan pusat agar dampak sosial ekonomi bisa diminimalkan.
Kendala operasional: konektivitas produksi
Ketua DPRD menjelaskan masalah utama yang memicu penghentian sebagian aktivitas produksi adalah hambatan distribusi hasil produksi ke perusahaan induk di Kabupaten Madiun.
Ia merinci dua kendala teknis. Pertama, pengangkutan lewat jalan darat berpotensi melanggar aturan Over Dimension Over Load (ODOL). Kedua, pengangkutan lewat rel tidak dapat melewati terowongan Mrawan.
"Pascaproduksi, PT INKA mengalami kendala konektivitas hasil produksi dari Banyuwangi ke perusahaan induk di Madiun. Jika lewat darat akan melanggar ketentuan ODOL, jika diangkut dengan kereta api tidak bisa melewati terowongan Mrawan," jelas Made.
Upaya yang didorong DPRD
Made mendorong langkah cepat dari pemerintah daerah dan pusat. Ia meminta studi kelayakan untuk pemetaan kebutuhan serta kesiapan infrastruktur.
Selain itu, ia menekankan perlunya alternatif skema pengangkutan agar fasilitas produksi kembali berjalan dan menyerap tenaga kerja lokal.
- Melakukan studi kelayakan infrastruktur dan logistik.
- Mengkaji alternatif rute atau skema pengangkutan.
- Menguatkan koordinasi antar pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan.
Implikasi dan langkah ke depan
Made berharap koordinasi yang diperkuat dapat membentuk ekosistem industri perkeretaapian yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Jika solusi konektivitas ditemukan, produksi dapat meningkat kembali dan menyerap tenaga kerja lokal.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons cepat pemerintah pusat dan daerah serta hasil kajian teknis yang diminta untuk mengurai kendala distribusi.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Peternak Magetan ke Jakarta: Tuntut Solusi Harga Telur dan Stok Pakan
Komisi B DPRD Magetan membawa peternak ke Jakarta (3/9/2026) untuk tuntut solusi harga telur, stok jagung, m...
Bupati Fawait Usulkan Tenaga Ahli untuk Anggota DPRD Jember
Bupati Jember usulkan tenaga ahli untuk tiap anggota DPRD; pimpinan DPRD menilai dukungan hanya untuk alat k...
Ketidakakuratan Data Desil Bikin Warga Miskin Kehilangan Bansos di Malang
Ketidakakuratan data desil di Kabupaten Malang membuat warga miskin dan penyandang disabilitas kehilangan ak...
Banggar DPR Soroti Kesalahan Data yang Hambat Penyaluran Subsidi
Ketua Banggar DPR minta perbaikan data DTSN untuk tekan inclusion dan exclusion error sehingga subsidi tepat...
PDIP Dorong Sistem Rating untuk Awasi SPPG Makan Bergizi Gratis
Fraksi PDIP Jatim mendorong sistem rating SPPG (traffic light) untuk memperkuat pengawasan MBG setelah rente...
Eri Cahyadi: Maulid Bukan Hanya Bersholawat, Wujudkan Kepedulian
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi minta Maulid diwujudkan lewat keteladanan dan kepedulian, bukan sekadar bersh...