Risiko Kesehatan Akibat Asap Karhutla: ISPA, Jantung, Kulit
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menimbulkan beragam risiko kesehatan, dari gangguan pernapasan hingga masalah jantung dan kulit. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan pada 27 Agustus 2026 tercatat 4.082 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan total 13.449 kasus di wilayah terdampak.
Gangguan pernapasan paling umum
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah keluhan yang paling sering dilaporkan saat kejadian kabut asap. Selain ISPA, paparan asap memperburuk kondisi penderita asma dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).
Partikel halus dalam asap dapat masuk jauh ke saluran napas dan memicu batuk, sesak napas, serta serangan asma pada mereka yang rentan.
Dampak pada jantung dan sistem kardiovaskular
Asap karhutla tidak hanya menyerang paru-paru. Polutan dan partikel halus juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular.
Paparan berkepanjangan diketahui meningkatkan risiko perburukan penyakit jantung dan rawat inap pada kelompok berisiko tinggi.
Iritasi mata, tenggorokan, kulit, dan gejala lain
Selain gangguan pernapasan, asap menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Gejala yang sering muncul meliputi:
- Mata merah dan berair
- Bersin dan hidung berair
- Batuk dan sakit tenggorokan
- Iritasi atau peradangan kulit, gatal-gatal
- Pusing, sakit kepala, dan nyeri dada pada paparan tinggi
Tingkat keparahan dipengaruhi oleh lama paparan, konsentrasi polutan, dan kondisi kesehatan individu.
Peran PM2.5 dan kelompok rentan
PM2.5 adalah partikel sangat halus yang bisa menembus jauh ke dalam paru-paru dan bahkan masuk ke aliran darah. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, partikel ini berdampak pada sistem pernapasan dan kardiovaskular.
Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit paru atau jantung termasuk kelompok yang paling rentan dan harus mendapat perhatian khusus saat kualitas udara buruk.
Langkah pencegahan dan penanganan
Untuk mengurangi risiko, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap pekat. Jika harus keluar, gunakan masker yang sesuai dan segera cari layanan kesehatan bila muncul gejala serius.
- Kurangi kegiatan fisik di luar ruangan saat kualitas udara buruk
- Gunakan masker pelindung bila terpaksa beraktivitas di luar
- Segera konsultasi medis jika mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala berat lain
- Keluarga dengan anggota rentan harus menyiapkan rencana proteksi dan evakuasi bila diperlukan
Perhatian terhadap risiko kesehatan akibat asap karhutla dan langkah pencegahan dapat menurunkan dampak buruk, terutama bagi kelompok rentan.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Dokter Nucky Raih Doktor: Sinkronisasi BPJS dan Jasa Raharja
Dokter Nucky Indra Praja meraih gelar Doktor Ilmu Hukum (cumlaude, IPK 3,96) lewat disertasi tentang sinkron...
ISPA dan Kabut Asap: Gejala, Risiko, dan Cara Melindungi Diri
ISPA dapat dipicu atau diperburuk oleh kabut asap. Kenali gejala, kelompok rentan, dan langkah untuk mengura...
2.387 Warga Tangsel Teridentifikasi Berisiko Depresi
Dinkes Tangsel mendata 2.387 warga berisiko depresi dari 753.537 skrining; 629 di antaranya pelajar SMA.
Mengapa Sindrom Riley-Day Membuat Penderitanya Tak Merasa Nyeri
Sindrom Riley-Day membuat penderitanya sulit merasakan nyeri, muncul sejak bayi dan terkait kelainan gen ELP...
Mayoritas Warga Banten Alami Hipertensi dan Diabetes
Gubernur Andra Soni menyatakan hipertensi dan diabetes jadi masalah utama warga Banten berdasarkan cek keseh...
Resistensi Antibiotik: Penyebab, Risiko, dan Cara Mencegah
Resistensi antibiotik terjadi saat bakteri kebal obat; kenali penyebab, risiko, dan langkah pencegahan agar...