Ekonomi

Rupiah Menguat 37 Poin, Ditutup Rp17.642 pada 4 Sept 2026

Bagikan:
Ilustrasi pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar valuta

Rupiah menguat di akhir pekan dan menutup perdagangan Jumat, 4 September 2026, naik 0,21 persen atau 37 poin ke posisi Rp17.642 per dolar AS. Penguatan ini dipicu sentimen positif setelah pernyataan pejabat Federal Reserve dan jelang data tenaga kerja AS yang dinanti pasar.

Respons pasar terhadap pernyataan pejabat The Fed

Sentimen global menjadi pendorong utama pergerakan rupiah hari ini. Sejumlah pelaku pasar menilai pernyataan pejabat The Fed memberikan sinyal meredanya tekanan inflasi, sehingga menurunkan ekspektasi pengetatan suku bunga lebih lanjut.

“Saya melihat beberapa tanda disinflasi dan keputusan suku bunga bulan September bergantung pada inflasi bulan Agustus,”

- Christopher Waller, pejabat Federal Reserve

Waller juga mengindikasikan dukungan untuk mempertahankan suku bunga jika data inflasi Agustus menunjukkan kelanjutan perbaikan. Pernyataan tersebut meredam kekhawatiran pasar tentang kenaikan suku bunga agresif di waktu dekat.

Jelang data Nonfarm Payrolls (NFP)

Pelaku pasar kini menantikan rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat sebagai indikator utama prospek kebijakan moneter The Fed. Data tersebut diprakirakan akan menunjukkan penambahan sekitar 50.000 pekerjaan di Agustus, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di angka 4 persen.

Hasil NFP yang lebih lemah dari ekspektasi bisa memperkuat sinyal pelonggaran tekanan inflasi dan mendukung mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah.

Faktor domestik: kelas menengah dan tantangan pertumbuhan

Di sisi domestik, analis menyoroti kondisi kelas menengah yang pendapatannya menurun, sementara kelompok ini tidak menerima bantuan sosial langsung. Penurunan pendapatan ini menjadi salah satu hambatan pemulihan konsumsi.

“Salah satu cara untuk mengangkat kembali kondisi kelas menengah adalah mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Namun pertumbuhan saat ini masih di kisaran 5 persen sehingga belum cukup kuat untuk mendorong industrialisasi,”

- Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang

Ibrahim menilai penciptaan lapangan kerja formal masih terbatas. Menurut dia, untuk membuka lebih banyak lapangan kerja dan membentuk kelas menengah baru, pertumbuhan ekonomi perlu mencapai sekitar 6–6,5 persen.

Prospek ke depan

Pergerakan rupiah ke depan akan bergantung pada kombinasi data ekonomi AS—terutama NFP dan inflasi Agustus—serta dinamika domestik terkait pertumbuhan dan lapangan kerja. Faktor geopolitik dan arah suku bunga global juga tetap menjadi variabel risiko yang harus dicermati oleh pelaku pasar.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait