Meteri Bumi: Bupati Trenggalek Ajak Jaga Sumber Air dan Ekosistem
Trenggalek, 26 Agustus 2026 — Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, yang akrab disapa Mas Ipin, memimpin ritual Meteri Bumi di sumber mata air Sumbergedong, Desa Gandusari, Rabu (26/8). Ia mengajak warga menjaga kelestarian alam dengan tidak merusak ekosistem, sebagai bagian dari persiapan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek pada 31 Agustus 2026.
Meteri Bumi: makna dan pesan utama
Menurut Bupati, tradisi Meteri Bumi bukan sekadar ritual tahunan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat agar hidup berdampingan dengan alam dan menghargai sumber daya yang menopang kehidupan.
“Konsepnya sama. Bahwasanya dengan Meteri Bumi ini menjadi bukti kami sebagai manusia terus berusaha menjaga keharmonisan dengan alam,” ujar Mas Ipin.
Sumbergedong: sumber air yang menopang kehidupan
Sumber mata air Sumbergedong berperan penting bagi warga Desa Gandusari. Mata air itu menjadi sumber penghidupan dan menopang kebutuhan irigasi pertanian setempat.
Keberadaan sumber air relatif stabil meski memasuki musim kemarau. Kondisi ini membantu petani mendapatkan pasokan air untuk lahan mereka dan mendukung panen yang berkelanjutan.
Pohon tua dan peran vegetasi
Di sekitar sumber tumbuh sejumlah pohon besar, seperti trembesi dan beringin, yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Menurut Mas Ipin, vegetasi ini berfungsi penting dalam menjaga kelangsungan sumber air.
“Pohon ini usianya ratusan tahun dan menjadi penopang sumber air. Maka dari itu panen yang melimpah tak lepas dari melimpahnya sumber air irigasi,” tutur Mas Ipin.
Ia menegaskan warga harus merawat pohon-pohon tersebut, bukan sekadar memanfaatkan manfaatnya.
Ritual, simbol, dan tindak lanjut
Ritual dipandu sesepuh masyarakat. Rangkaian acara dimulai dengan doa bersama untuk leluhur, ziarah ke makam punden, dan diakhiri dengan memakaikan kain batik pada batang pohon besar di sekitar sumber air.
Pemasangan kain batik bersifat simbolis sekaligus menjadi penanda komitmen menjaga pohon tua dan keberlanjutan ekosistem.
Dampak jangka panjang
Pemerintah Kabupaten Trenggalek berharap tradisi ini tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Pesan pelestarian lingkungan diharapkan tumbuh menjadi kesadaran sehari-hari agar ketersediaan air, kelestarian pohon, dan ekosistem tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Kelestarian sumber air dan vegetasi menjadi kunci utama keberlanjutan hidup masyarakat desa.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Wakil DPRD Desak Perumda Tugu Tirta Tangani Krisis Air Irigasi Tumpang
Wakil DPRD Malang desak Perumda Tugu Tirta tangani krisis air irigasi Sumberpitu; usulkan embung atau sumur...
DPC PDI Perjuangan Malang Sulap Kantor Jadi 'Rumah Rakyat'
DPC PDI Perjuangan Malang akan mengubah kantornya menjadi Rumah Rakyat dengan tahfidz, joglo budaya, ruang k...
Pengolahan Tembakau Tuban Serap Puluhan Pekerja dan Jamin Pasar
Busono, Sekretaris PAC PDI Perjuangan Senori, membuka usaha pengolahan tembakau sejak 2023 yang serap puluha...
PDI Perjuangan Jatim Dukung Rumah Tahfidz Puan Maharani di Malang
PDI Perjuangan Jatim mendukung pembangunan Rumah Tahfidz Puan Maharani di Kabupaten Malang sebagai ruang pen...
Talud Sungai Temon Trenggalek Ditarget Selesai Desember 2026
Ketua DPRD Trenggalek tinjau pembangunan talud Sungai Temon; proyek Rp4,4 miliar ditarget selesai akhir Dese...
Said Abdullah: Partai Harus Hadir untuk Rakyat Setiap Hari
MH Said Abdullah minta kader PDI Perjuangan Jatim menjaga kepercayaan rakyat lewat mendengar dan kerja nyata...