Gaya Hidup

Pelajar Rajut Peta 2,5 m dari Kain Perca, Galang Dana untuk Wisma Cheshire

Bagikan:
Peta Nusantara 2,5 meter terbuat dari kain perca di belakang panggung Style Avenue

17 pelajar dari lima sekolah di Jakarta merajut peta Nusantara sepanjang 2,5 meter dari kain perca dan menggelar lelang amal di panggung Style Avenue, bagian dari BNI wondrX 2026, untuk mendukung Yayasan Wisma Cheshire Indonesia.

Proyek dan peta kain perca

Di belakang panggung ICE BSD tersaji peta Indonesia berukuran 2,5 m × 1,5 m yang seluruh permukaannya ditutup kain perca hasil donasi. Proyek bertajuk Merajut Perca Nusantara ini digagas oleh Weaving Nusantara dan dikerjakan oleh pelajar dari ACS Jakarta, JIS, BSJ, Santa Ursula BSD, dan Sekolah Murid Merdeka.

Di bawah pengarahan Project Director Howard Alvias, 17 remaja membagi tugas dalam enam divisi: manajemen proyek, kreatif, pemetaan kreatif, komunikasi, umum, dan keuangan. Mereka merangkai peta secara bertahap selama berbulan-bulan di rumah masing-masing.

Pelaksanaan acara dan rangkaian kegiatan

Slot acara empat jam yang mereka susun dijalankan secara mandiri di panggung Style Avenue. Agenda meliputi peragaan busana perca, lokakarya pra-acara, serta lelang langsung dan online untuk rompi hasil kompetisi.

  1. Menghias Tote Bag: program kolaborasi siswa tuli dan teman dengar bersama Yayasan Wisma Cheshire Indonesia.
  2. Mozaik Kain di Atas Kanvas: untuk anak usia 7–12 tahun dengan pendampingan fasilitator.
  3. Make-A-Vest: kompetisi usia 13–18 tahun, peserta mendapat blind box bahan dan membuat rompi dalam delapan jam.

Kompetisi Make-A-Vest menghasilkan 17 rompi yang kemudian dilelang online hingga 22 Agustus. Delapan rompi terbaik terpilih untuk lelang langsung pada 23 Agustus.

Sumber bahan dan partisipasi

Pasca pengumpulan, bahan perca datang dari dua jalur utama:

  • Jenama lokal: 18 brand tekstil dan busana menyerahkan sisa produksi, termasuk Batik Chic, Lakon, Nona Rara, Omah Etnic, Kamisuka, Melekat Dijiwa, dan Batik Anita Ayu.
  • Masyarakat luas: kampanye pengumpulan via Instagram mengajak publik mengirim kain perca dari berbagai daerah.

Panitia mengumumkan nama-nama brand di atas panggung dan memberi penghargaan di booth masing-masing.

Kutipan panitia

"Awalnya cuma tumpukan kain sisa, dan kami sendiri sempat ragu proyek ini bisa jalan. Kami bertujuh belas berasal dari lima sekolah berbeda dan banyak yang belum kenal satu sama lain,"

"Berbulan-bulan akhir pekan kami habiskan duduk di lantai ruang tamu cuma berbekal gunting. Tidak ada satu pun kepingan yang pas di awal, sama seperti kami."

"Penawaran online dan tawaran langsung di lokasi harus dicek ketat satu per satu supaya tidak ada kekeliruan. Dan seluruh hasilnya bisa benar-benar tersalurkan ke Yayasan Wisma Cheshire Indonesia,"

— kata Howard Alvias dan Kenzo Sugiarso, Project dan Finance Director Weaving Nusantara.

Hasil lelang dan dampak

Semua hasil lelang, setelah dikurangi biaya operasional, disalurkan ke Yayasan Wisma Cheshire Indonesia. Selain penerima bantuan, penghuni dan staf yayasan juga terlibat aktif: membuat tote bag, menjadi juri, serta mendemonstrasikan keterampilan menjahit di area acara.

Acara ini menegaskan pesan bahwa barang yang dianggap sisa atau kelompok yang kerap terabaikan tetap memiliki nilai dan keindahan saat diberi ruang dan kesempatan.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait