2.387 Warga Tangsel Teridentifikasi Berisiko Depresi
Pemerintah Kota Tangerang Selatan mencatat 2.387 warga teridentifikasi berisiko depresi setelah skrining Cek Kesehatan Gratis pada 753.537 jiwa. Dari jumlah itu, 629 adalah siswa SMA. Temuan ini muncul dari skrining sederhana untuk memetakan kesehatan mental masyarakat.
Hasil skrining dan cakupan
Skrining dilakukan dalam program Cek Kesehatan Gratis yang menjangkau 753.537 jiwa. Dari total peserta, 2.387 dinilai berisiko depresi berdasarkan jawaban mereka.
Sekitar 629 responden yang teridentifikasi adalah pelajar tingkat SMA. Pemeriksaan luas ini juga menemukan penyakit tidak menular lain seperti hipertensi dan diabetes.
Metode dan kriteria penilaian
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, mengatakan skrining tidak menggunakan tes psikologi yang rumit. Pemeriksaan memakai metode self-assessment dengan enam pertanyaan dasar.
Metode ini menilai indikator emosional dan fisik yang dirasakan warga dalam dua pekan terakhir. Pertanyaannya mencakup:
- rasa cemas berlebihan
- kekhawatiran terhadap hal yang belum terjadi
- perasaan ketakutan
- gangguan tidur
Mengenai temuan awal depresi tersebut, itu merupakan skrining sederhana dengan menanyakan sekitar enam pertanyaan kata Allin
Allin menegaskan kejujuran responden penting untuk memetakan risiko gangguan kecemasan sejak dini. Ia juga menekankan hasil skrining hanya menunjukkan risiko, bukan diagnosis gangguan jiwa berat.
Sebenarnya ini adalah sesuatu yang membutuhkan edukasi dari kita. Apakah mereka sudah mulai minum obat Tidak, ini hanya berupa risiko depresi kata Allin
Temuan pada pelajar dan respons pemerintahan
Temuan risiko pada pelajar muncul dari sesi konseling yang dilakukan oleh beberapa organisasi perangkat daerah. Hasil konseling dan jawaban siswa menjadi dasar identifikasi kondisi mereka.
Walaupun tidak beratlah kira-kira seperti itu kata Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie merujuk pada penyebab seperti kegagalan masuk sekolah negeri
Pemkot mencatat sekitar 53 persen penduduk Tangsel mengikuti pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis. Selain pemetaan kesehatan mental, kegiatan ini juga menyorot prevalensi hipertensi dan diabetes.
Kesimpulan dan langkah ke depan
Hasil skrining memberikan gambaran awal tentang kondisi kesehatan mental warga Tangsel dan menunjukkan kebutuhan edukasi serta intervensi dini. Pemerintah daerah perlu memperkuat layanan konseling dan rujukan agar warga yang berisiko dapat memperoleh pemantauan lebih lanjut.
Temuan ini menjadi basis untuk program lanjutan yang menyeimbangkan deteksi dini, edukasi publik, dan akses layanan kesehatan mental sesuai tingkat risiko.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
BPOM Kawal Terapi Sel: Sains, Risiko, dan Regulasi
BPOM mengawal pengembangan terapi sel di ACTO 2026 dengan pendekatan sains dan risiko untuk menjamin keamana...
CKG Jadi Pintu Masuk Jaga Kesehatan Anak, Kata Wamen PPPA
Wamen PPPA Veronica Tan menyatakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai pintu masuk pencegahan dan pembentukan...
Pneumonia di Pontianak Naik 20% Imbas Kabut Asap Karhutla
Rumah Sakit Bhayangkara Pontianak melaporkan kenaikan kasus pneumonia 20% pada 29 Agustus 2026 akibat membur...
Kemenkes: 13.500 Kasus ISPA Akibat Karhutla Juli–Agustus 2026
Kemenkes catat 13.500 kasus ISPA akibat karhutla Juli–Agustus 2026; 4.082 masih menderita per 27 Agustus di...
Kemenkes: 25 Daerah Alami Kualitas Udara Tidak Sehat
Kemenkes mencatat 25 kabupaten/kota punya kualitas udara tidak sehat akibat karhutla per 27 Agustus 2026. Pe...
5 Buah yang Bantu Tubuh Cepat Pulih Saat Demam
Lima buah—air kelapa, semangka, jeruk, alpukat, dan beri—membantu hidrasi, energi, dan meredakan peradangan...