Olahraga

Arthur Irawan: Pemain Muda Harus Main karena Kualitas

Bagikan:
Arthur Irawan berbicara soal penghapusan regulasi U-23 dan pentingnya kualitas pemain

Pemilik Persik Kediri, Arthur Irawan, mendukung penghapusan kewajiban memainkan pemain U-23 pada kompetisi Super League 2026/2027. Pernyataan itu disampaikan saat dialog "Membawa Liga Naik Kelas" di kantor I.League, Jakarta, pada Senin, 31 Agustus 2026. Arthur berargumen pemain muda seharusnya mendapat kesempatan berdasarkan kualitas, bukan hanya karena aturan usia.

Alasan: kualitas di atas kuota

Arthur menegaskan setiap klub berupaya menurunkan susunan pemain terbaik untuk meraih hasil maksimal. Menurutnya, porsi pemain muda harus ditentukan pelatih berdasarkan performa dan kesiapan mental.

Kalau emang pemain itu misalnya di bawah U-23 atau U-23 dan layak main, dia juga pasti main.

Ia menambahkan bahwa kesempatan yang dipaksakan semata karena usia dapat mengurangi motivasi pemain untuk bersaing secara sehat dalam tim.

Contoh konkret: Lamine Yamal dan Rendy Sanjaya

Arthur mencontohkan Lamine Yamal sebagai ilustrasi pemain muda yang menjadi pilihan utama bukan karena usia, melainkan karena kualitasnya. Ia kemudian mengaitkan contoh itu dengan situasi di Persik Kediri.

Lamine Yamal inti buat Spanyol bukan karena dia usia muda, karena memang kualitasnya sudah layak untuk jadi inti.

Di internal Persik, Arthur menyebut nama Rendy Sanjaya sebagai talenta U-23 yang berpotensi menjadi pilihan utama. Namun, keputusan akhir tetap diserahkan kepada pelatih berdasarkan rencana dan kebutuhan tim.

I.League hapus kewajiban U-23 dan beri apresiasi

I.League memutuskan menghapus regulasi yang mewajibkan menit bermain bagi pemain U-23. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Liga Indonesia Baru pada Rabu, 26 Agustus 2026. Meski aturan dihapus, liga tetap memberikan apresiasi berupa dana tambahan bagi klub yang konsisten memberi kesempatan kepada pemain muda.

Arthur menyatakan dukungan Persik Kediri terhadap kebijakan penghapusan tersebut dan menegaskan susunan pemain sepenuhnya menjadi wewenang pelatih. Menurutnya, persaingan internal yang sehat justru dapat memicu kemauan lebih dari pemain muda untuk menunjukkan kemampuan.

Implikasi dan pandangan ke depan

Penghapusan regulasi membuka ruang bagi keputusan selektif berdasarkan kualitas pemain. Di sisi lain, klub yang ingin tetap mengembangkan talenta muda memiliki insentif finansial dari liga. Ke depan, keberhasilan kebijakan ini akan bergantung pada komitmen klub dan pelatih menyeimbangkan prestasi jangka pendek dan pengembangan pemain muda.

Yoga Prasetyo
Penulis
Yoga Prasetyo

Pecinta olahraga yang aktif melaporkan sepak bola, bulu tangkis, dan berbagai kompetisi internasional.

Berita Terkait