Mengapa Sindrom Riley-Day Membuat Penderitanya Tak Merasa Nyeri
Sindrom Riley-Day adalah penyakit langka yang membuat penderitanya sulit atau tidak mampu merasakan nyeri. Kondisi ini biasanya terlihat sejak masa bayi atau anak, menyerang sistem saraf otonom yang mengatur detak jantung, tekanan darah, suhu tubuh, dan produksi air mata, sehingga menimbulkan risiko cedera dan komplikasi serius.
Apa itu Sindrom Riley-Day?
Sindrom Riley-Day, juga disebut familial dysautonomia atau hereditary sensory and autonomic neuropathy tipe III, adalah gangguan genetik yang memengaruhi fungsi saraf otonom dan sensorik. Akibatnya, penderita mengalami gangguan dalam merasakan nyeri, suhu, sentuhan, dan kadang penciuman atau pengecapan.
Gejala utama dan risiko
Gejala sering muncul sejak bayi atau anak kecil. Keluhan awal yang sering ditemukan meliputi kesulitan menelan, tonus otot rendah, dan pertumbuhan terhambat. Seiring waktu, gejala bisa meluas ke banyak sistem tubuh.
- Kesulitan menelan yang meningkatkan risiko masuknya makanan atau cairan ke saluran napas
- Mata kering akibat produksi air mata terganggu
- Muntah berulang, diare, demam, kejang, dan pneumonia
- Berkeringat saat makan atau gangguan regulasi suhu
- Di masa dewasa dapat muncul gangguan bicara, penglihatan, pengecapan, masalah tulang belakang, ginjal, dan kepadatan tulang menurun
Hilangnya sensasi nyeri membuat penderita lebih rentan mengalami cedera tanpa sadar, seperti luka bakar atau patah tulang yang tidak segera tertangani. Gangguan menelan menjadi salah satu masalah paling berbahaya karena dapat menyebabkan infeksi paru-paru berulang dan pneumonia.
Penyebab dan pewarisan
Penyakit ini terkait dengan kelainan pada gen ELP1 dan diwariskan secara resesif antargenerasi. Kasus Sindrom Riley-Day lebih sering ditemukan pada kelompok keturunan tertentu, termasuk komunitas keturunan Yahudi Eropa Timur.
Penanganan dan pengawasan
Sampai saat ini belum ada terapi yang bisa menyembuhkan Sindrom Riley-Day secara total. Perawatan medis fokus pada pengendalian gejala, pencegahan komplikasi, dan upaya mempertahankan kualitas hidup.
- Pemantauan kesehatan rutin untuk mendeteksi cedera, gangguan pernapasan, dan masalah nutrisi sejak dini
- Terapi suportif untuk membantu masalah menelan, mata kering, dan gangguan pencernaan
- Perawatan khusus di berbagai disiplin untuk komplikasi pada tulang, ginjal, dan sistem saraf
Pengawasan ketat sejak masa bayi sangat penting untuk memperkecil risiko komplikasi jangka panjang. Dengan pemantauan dan penanganan yang tepat, banyak masalah bisa dikendalikan walau kondisi dasarnya belum dapat disembuhkan.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Risiko Kesehatan Akibat Asap Karhutla: ISPA, Jantung, Kulit
Asap karhutla meningkatkan risiko ISPA, PPOK, gangguan jantung, iritasi mata dan kulit; kelompok rentan haru...
PB PDHI Tegaskan Peran Vital Dokter Hewan untuk Kesehatan Publik
PB PDHI menegaskan dokter hewan berperan penting menjaga keamanan produk hewani, mencegah zoonosis, dan meng...
PB PDHI: Indonesia Butuh Minimal 30 Ribu Dokter Hewan
PB PDHI menilai Indonesia membutuhkan minimal 30.000 dokter hewan karena jumlah saat ini sekitar 16.000 belu...
Kasus TBC di Banten Baru 66% Terdeteksi, Dinkes Kejar 90%
Dinkes Banten sebut 33.495 kasus TBC terdeteksi (66%) hingga Sept 2026; sekitar 17.255 pasien belum ditemuka...
9 Cara Mudah Meredakan Gejala Masuk Angin
Sembilan langkah sederhana di rumah untuk meredakan gejala masuk angin seperti batuk, hidung tersumbat, dan...
Benarkah Susu Wajib dalam Menu Bergizi? Penjelasan Kemenkes
Susu bergizi namun tidak wajib; Kemenkes dan WHO menekankan keberagaman makanan untuk memenuhi protein dan k...