Gaya Hidup

Manten Gethek: Sungai Serayu Disimbolkan dalam Bisik Serayu Festival

Bagikan:
Prosesi Manten Gethek di atas getek di Sungai Serayu, Kaliori, Banyumas

Manten Gethek menjadi inti pertunjukan di Bisik Serayu Festival 2026 yang digelar di Desa Kaliori, Kabupaten Banyumas, Sabtu, 29 Agustus 2026. Prosesi mempertemukan sepasang pengantin, getek, dan aliran Sungai Serayu sebagai simbol hubungan manusia dengan alam. Acara itu dimaksudkan untuk membaca kembali peran sungai dalam kehidupan budaya Banyumas.

Pertunjukan Manten Gethek

Prosesi Manten Gethek menampilkan sepasang laki-laki dan perempuan berpakaian pengantin yang diarak ke tepian sungai. Mereka kemudian menaiki getek dan dibawa perlahan ke tengah aliran sebagai bagian inti pertunjukan. Menurut penggagas festival, tindakan itu bukan sekadar tontonan estetika, melainkan upaya memperlihatkan ritual dan kosmologi lokal.

"Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah laku spiritual dan kosmologi Banyumasan,"

Pernyataan itu disampaikan Rianto, penari dan koreografer Lengger Lanang Banyumas, yang menjadi penggagas Bisik Serayu 2026 dalam keterangan tertulis pada 1 September 2026. Rianto juga mendirikan Dewandaru Dance Company bersama istrinya, Miray Kawashima, dan membawa pengalaman internasional kembali ke Kaliori.

Serayu sebagai Ruang Hidup

Sungai Serayu mengalir dari Pegunungan Dieng, melintasi Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, dan Banyumas, lalu menuju Cilacap sebelum bermuara di Samudra Hindia. Sepanjang aliran itu, Serayu berperan dalam pertanian, permukiman, mobilitas, dan aktivitas keseharian warga. Karena peran multifungsi itulah, masyarakat memandang Serayu sebagai ruang hidup bukan sekadar bentang alam.

Jejak kebudayaan terkait sungai juga tercatat dalam naskah dan catatan sejarah. Pertunjukan rakyat, ritual mandi bersama, dan permainan bunyi di permukaan air merupakan contoh bagaimana sungai menjadi ruang berkesenian di desa-desa sekitar Serayu.

Bisik Serayu: Membuka Kembali Hubungan

Festival Bisik Serayu berupaya menghadirkan kembali praktik kebudayaan yang sempat meredup. Sejak 2024, beberapa tradisi seperti Kunclungan diperkenalkan ulang melalui program festival di tingkat komunitas. Pada 2025, kegiatan ruwatan dan labuhan mengingatkan peristiwa banjir besar 1861 yang kerap disebut Blabur Banyumas.

Tahun ini, penyusunan acara mengacu pada tiga pilar yang dirumuskan penggagas festival sebagai dasar kegiatan.

  • Bisik Air atau Svara Tirta
  • Pijak Bumi atau Prajna Pertiwi
  • Temu Rasa atau Manunggaling Warga

Membaca Falsafah Banyumas

Beberapa narasumber menilai festival ini menyingkap falsafah lokal yang mengaitkan Gunung Slamet, Sungai Serayu, dan karakter masyarakat. Anggota Komisi VII DPR RI, Siti Mukaromah, menekankan nilai-nilai keteguhan, aliran, dan kejujuran sebagai inti falsafah tersebut.

"Gununge mulang kukuh, Serayune mulang mili. Serta Blakasuta mulang jujur,"

Pegiat budaya Nisa Roiyasa menambahkan bahwa Bisik Serayu adalah ekspresi estetika masyarakat terhadap alam. Ia berharap kedua ekosistem—Gunung Slamet dan Sungai Serayu—bisa saling berkolaborasi untuk memperkaya narasi peradaban lokal.

"Saya berharap ke depan kedua ekosistem ini bisa berkolaborasi,"

Tradisi yang Terus Bergerak

Bisik Serayu juga mencerminkan perjalanan budaya yang dinamis. Kolaborasi antara seniman lokal dan internasional menunjukkan tradisi dapat berkembang tanpa kehilangan akar. Dalam konteks itu, Manten Gethek bukan sekadar pelestarian, tetapi reinterpretasi hubungan manusia dengan air melalui tubuh, bunyi, dan alat tradisional seperti getek.

Di Kaliori, Sungai Serayu kembali diangkat menjadi simbol yang "dinikahkan" dengan manusia, menegaskan peran sungai sebagai bagian hidup dan sumber identitas komunitas Banyumas.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait