Festival Muria Raya 2026 Perkuat Kolaborasi Seni Lintas Budaya
Festival Muria Raya (FMR) #6 mempertemukan seniman dari Prancis, Jepang, dan pelaku seni lokal pada 5–30 Agustus 2026 di sejumlah desa di kawasan Gunung Muria. Festival ini menyelenggarakan rangkaian pertunjukan, residensi, dan perjalanan budaya pradaksina untuk mempererat persaudaraan serta mendorong dialog budaya antara seniman dan masyarakat desa.
Pembukaan: Gamelan Prancis bertemu musik lokal
Pembukaan FMR #6 berlangsung di Desa Menawan, Kudus, menampilkan belasan musisi Prancis dari Compagnie Kotekan yang memainkan gamelan bersama Gayam 16 Yogyakarta. Pertunjukan menggabungkan gamelan dengan saxophone, trombone, dan terompet, menandai pertemuan musik tradisi dan modern.
Kolaborasi dipimpin oleh musisi dan komponis Jean-Pierre “Pawak” Goudard, yang pertama kali belajar gamelan di Bali sekitar tahun 2000 dan membawa instrumen ke Prancis untuk dipelajari bersama rekan dan muridnya.
"Gamelan membuka ruang bagi siapa saja untuk berkarya bersama,"
kata Sarah Andrieu, Presiden Compagnie Kotekan, dalam keterangan tertulis, Selasa, 1 September 2026.
Residensi, tari ritual, dan keterlibatan masyarakat
Festival juga menghadirkan Yuta Kuroki dari Jepang yang menampilkan Kijin Kagura, tari ritual dari Shiiba, Miyazaki, dalam program residensi bersama masyarakat Muria. Komunitas Tari Caping Kalo dari Kudus turut tampil membuka dialog antartradisi.
Di Desa Japan, kegiatan berbasis masyarakat melibatkan latihan tembang macapat oleh Shafira Onky Parasmita untuk remaja setempat dan kolaborasi musik antara Yuta Kuroki dengan anak sekolah dasar. Seniman lokal seperti Cucu Khabib Yahya tampil lewat wayang kulit Bedhol Kayon dan Tari Bujang Ganong.
"Dari mereka saya belajar bahwa seni tidak semata-mata soal uang. Melainkan ruang belajar, dialog, dan perjumpaan,"
kata Cucu Khabib Yahya mengenai pengalaman kolaborasi lintas budaya.
Perjalanan budaya: konsep pradaksina dan maknanya
Rangkaian festival berkeliling mulai Desa Menawan, berlanjut ke Desa Japan pada 21 Agustus, dan mencapai puncak di Dukuh Dombyang, Desa Jepalo, Pati pada 29–30 Agustus. Konsep perjalanan mengelilingi Gunung Muria ini disebut sebagai pradaksina.
"Ujung dengan ujung bertemu melingkar. Itu menjadi simbol ikatan persaudaraan antar sesama manusia,"
ujar Brian Trinanda K. Adi, Ketua Yayasan Festival Muria Raya, menjelaskan makna simbolik gerakan Tepuk Gelang dalam festival.
Eksperimen, residensi, dan pameran akhir
FMR #6 menampilkan eksperimen organologi melalui karya Gatotkaca, Gamelan Total Kaca, yang mengembangkan instrumen dari limbah kaca. Proses pelelehan kaca menjadi instrumen mempertemukan pengetahuan gamelan tradisi dengan material tak lazim.
Program Artists and Experts in Residence melibatkan seniman seperti Yuta Kuroki, Gempur Sentosa, Pepep D.W., Welda Sanavero, dan Jawara Squad. Hasil residensi dipresentasikan dalam Gelar Cakra Manggilingan pada 29–30 Agustus, menampilkan pameran, pertunjukan, dan diskusi komunitas.
Penutup: festival sebagai gerakan kebudayaan
Tim media FMR menegaskan festival tidak sekadar pertunjukan, melainkan gerakan budaya yang tumbuh bersama masyarakat desa. Setiap babak menjadi laboratorium perjumpaan dan jembatan persaudaraan, serta bekal untuk kelanjutan praktik budaya lokal dan kolaboratif.
"Festival Muria Raya bukan sekadar pertunjukan seni. Tetapi gerakan kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat desa,"
Dengan mengutamakan perjumpaan, karya, dialog, dan pengetahuan lokal, Festival Muria Raya membuka peluang bagi masyarakat dan seniman untuk meneruskan hubungan lintas budaya ke edisi berikutnya.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Bisik Serayu Festival 2026: 'Agresi Budaya' Selamatkan Sungai Serayu
Bisik Serayu Festival 2026 hadir 29–30 Agustus di tepi Sungai Serayu; inisiatif 'Agresi Budaya' memadukan ri...
Festival Kuliner Bandung Vol. 3 'Bandung Tempo Doeloe' di SUMMABA
Summarecon Mall Bandung gelar Festival Kuliner Bandung Vol. 3 (25 Agu–27 Sep 2026) di Area Parkir Barat deng...
Meradjoet Sendja: Panggung Seni Merawat Ingatan Perjuangan
Pertunjukan Meradjoet Sendja dipentaskan di GKJ 26 Agustus 2026; hasil tiket disumbangkan untuk seniman seni...
FOMO sampai Delulu: 6 Istilah Gaul Populer di Kalangan Gen Z
Kenali makna FOMO, delulu, healing, spill, dan red flag—istilah gaul Gen Z yang kian populer di media sosial...
26 Agustus: Daftar Peringatan dari Kesetaraan hingga Pos Indonesia
Tanggal 26 Agustus diperingati berbagai momen: dari Hari Kesetaraan Perempuan, Hari Anjing Nasional, hingga...
Dolly Parton Meninggal di Usia 80, Ikon Musik Country Amerika
Dolly Parton, legenda musik country Amerika, meninggal di usia 80 tahun; keluarga belum menjelaskan penyebab...