Gaya Hidup

IDCO Rayakan 10 Tahun dengan 'Cinderella' Sold Out di TIM

Bagikan:

Jakarta. Indonesia Dance Company (IDCO) menutup perayaan 10 tahun dengan pertunjukan Cinderella yang habis terjual pada 29–30 Agustus di Grand Theater, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Produksi ini memadukan balet klasik dan tari kontemporer, sekaligus menegaskan tujuan IDCO membangun jalur karier bagi penari Indonesia ke lembaga tari dunia.

Pertunjukan dan alur cerita

Dalam pementasan, Krysante “Shiren” berperan sebagai Cinderella. Cerita mengikuti versi familiar—Cinderella hidup sengsara bersama saudara tirinya, mendapat bantuan dari Fairy Godmother, dan menghadiri pesta dansa kerajaan.

Salah satu adegan paling memukau adalah transformasi kostum yang terjadi di atas panggung: gaun compang-camping berubah seketika menjadi gaun biru berkilau saat Cinderella bersiap ke pesta. Panggung juga menampilkan waltz elegan, pas de deux, serta sentuhan komedi lewat koreografi stepsisters.

Momen panggung dan koreografi

Pentas menonjolkan kombinasi teknik balet yang menuntut dan ekspresi kontemporer yang lincah. Adegan tarian di istana memperlihatkan putaran, lompatan, dan formasi waltz yang rapi, sementara langkah-langkah berlebihan para saudara tiri memberi kontras dramatis dan humor.

Pertunjukan ditutup dengan reuni Cinderella dan pangeran dalam sebuah pas de deux, diikuti seluruh pemain yang melakukan révérence—salam penutup tradisional balet.

Jalur karier: dari Marlupi ke panggung internasional

Produksi ini juga menyorot peran Marlupi Dance Academy (MDA), afiliasi IDCO, dalam membangun jalur profesional bagi penari Indonesia. Beberapa alumnus Marlupi kini menempuh studi di sekolah balet bergengsi dunia.

Contoh nyata adalah Krysante “Shiren” dan Mordechai Ozora Sumenda, yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa di Royal Ballet School di London. Selain itu, Aneira Mirahani melanjutkan studi di Académie Princesse Grace di Monako.

“These two young Indonesian dancers are currently at the Royal Ballet School in London,” Deverell said, referring to Shiren and Mordechai. “And you guys are the future of Indonesian dance.”

Sejarah Marlupi dan dampak jangka panjang

Akademi Marlupi didirikan di Surabaya pada 1956 oleh Marlupi Sijangga yang mulai mengajar dari rumah. Kini institusi itu berkembang menjadi lebih dari 40 cabang di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Perkembangan ini mengubah persepsi balet di Indonesia dari sekadar kegiatan ekstrakurikuler menjadi opsi karier profesional. IDCO dan Marlupi bekerja sama menyediakan akses kompetisi, workshop, festival, dan jejaring dengan sekolah serta perusahaan tari di dalam dan luar negeri.

  • Rebecca Alexandria — pemenang YAGP
  • Freya Zaviera Narendrasetya — pemenang YAGP
  • Ilona Jahja — pemenang YAGP

Menutup acara, Creative Director IDCO, Deverell Alim, menyebut penjualan tiket habis di TIM sebagai tonggak penting saat perusahaan memasuki dekade keduanya. Keberhasilan ini sekaligus menegaskan komitmen IDCO untuk meneruskan jalur pembinaan yang menghubungkan studio lokal ke panggung dunia.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait