IHSG Stagnan di Jeda Siang, Level 6.517,23
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat stagnan pada jeda siang Senin, 31 Agustus 2026 di level 6.517,23, turun tipis 0,88 poin atau 0,01 persen. Pergerakan ini tercatat setelah pembukaan di level 6.511 dan rentang intraday 6.476 hingga 6.525.
Data perdagangan dan sentimen pasar
Nilai transaksi hingga jeda siang mencapai Rp10,326 triliun dengan volume 26,362 miliar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, 392 saham menguat, 229 melemah, dan 166 stagnan. Data perdagangan menunjukkan likuiditas yang masih cukup tinggi meski indeks cenderung datar.
Proyeksi analis
Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai IHSG berpeluang menguat pada sisa perdagangan hari ini. Proyeksi itu didasarkan pada kemampuan indeks bertahan di atas level support utama 6.500 pada sesi sebelumnya.
IHSG berpotensi rebound hari ini setelah kemarin tetap bertahan di atas support kuat di 6.500
Fanny memperkirakan level support berada di kisaran 6.460–6.500, sedangkan resistance diproyeksikan pada area 6.580–6.620. Proyeksi ini memberi panduan bagi investor jangka pendek dalam menetapkan strategi trading.
Pengaruh sentimen global
Pergerakan IHSG juga dipengaruhi sentimen bursa regional Asia yang mayoritas menguat, seiring penurunan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi. Penurunan tersebut didorong oleh optimisme atas dimulainya kembali dialog antara Iran dan Oman yang membuka peluang normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz.
Namun, penguatan domestik terbatas oleh sentimen negatif dari Wall Street. Bursa AS yang sebelumnya ditutup melemah membuat investor lokal bersikap hati-hati menunggu perkembangan lanjutan.
Pelaku pasar juga mencermati pernyataan Ketua The Fed dalam forum Jackson Hole yang menegaskan komitmen bank sentral AS menurunkan inflasi menuju target dua persen. Pernyataan tersebut menimbulkan ketidakpastian terhadap prospek kebijakan suku bunga di masa mendatang.
Tanpa keyakinan bahwa inflasi bergerak secara jelas dan cukup cepat menuju target 2 persen yang ditetapkan The Fed, bank sentral masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan
Outlook
Secara relatif, prospek jangka pendek IHSG bercampur. Faktor domestik yang stabil di level support 6.500 memberi peluang rebound. Sebaliknya, risiko dari kebijakan moneter AS dan sentimen global dapat menahan penguatan lebih lanjut. Investor disarankan memantau data perdagangan, perkembangan negosiasi regional, dan pernyataan kebijakan The Fed untuk menentukan langkah investasi.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...