Analis: Rupiah, Minyak, Emas Diprediksi Masih Tertekan Pekan Depan
Analis pasar memperkirakan nilai tukar rupiah, harga minyak, dan harga emas akan tetap tertekan pada pekan mendatang karena kondisi geopolitik, kebijakan suku bunga AS, dan permintaan emas global yang tinggi. Pernyataan ini disampaikan dalam analisis mingguan pada Minggu, 30 April 2026.
Faktor penggerak pasar
Menurut analis Ibrahim Assuaibi, tiga faktor utama akan menentukan pergerakan aset: ketidakpastian geopolitik, proyeksi suku bunga di the Fed, dan peningkatan permintaan emas oleh bank sentral. Tekanan pada pasar global berpotensi memicu fluktuasi yang lebih besar pada aset berisiko dan aset safe-haven.
"Harga logam mulia kemunginan akan mengalami kenaikan pekan depan, karena kenaikan harga emas dunia. Selain itu, nilai tukar rupiah juga diprakirakan akan kembali melemah ke level Rp17.900 per dolar AS,"
Pengaruh pernyataan pejabat AS
Ibrahim menyoroti pernyataan Ketua the Fed, Kevin Warsh, dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole akhir pekan lalu. Ia menyebut pernyataan tersebut menegaskan kekhawatiran atas inflasi yang masih tinggi dan kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi belum turun ke target 2 persen.
"Warsh mengatakan inflasi masih tinggi, dan ia tidak akan menoleransi inflasi yang tinggi,"
Proyeksi harga minyak dan indeks dolar
Di sisi energi, Ibrahim memperkirakan berpotensi ada kelebihan pasokan setelah AS menguasai hasil minyak Venezuela, yang berimplikasi pada pergeseran posisi negara itu di pasar minyak global. Untuk harga minyak West Texas Intermediate (WTI), dia memproyeksikan pergerakan di kisaran USD76,30–USD98 per barel.
Sementara itu, prospek suku bunga AS yang masih tinggi diperkirakan mendukung penguatan indeks dolar AS ke kisaran 98,90–100,80. Penguatan dolar ini berpeluang menekan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Dampak pada rupiah dan harga emas domestik
Ibrahim memperkirakan rupiah akan kembali berfluktuasi dengan kecenderungan melemah, yang akan berdampak pada harga logam mulia di pasar domestik. Ia mematok level proyeksi berikut untuk pasar logam:
- Nilai tukar: sekitar Rp17.900 per dolar AS
- Harga emas domestik: support Rp2,6 juta/gram dan resistansi Rp2,81 juta/gram
- Emas dunia: support USD4.262 per troi ons dan resistansi USD4.682 per troi ons
Penutup
Dengan kombinasi tekanan geopolitik dan kebijakan moneter AS yang ketat, pasar diperkirakan akan tetap volatile pada pekan mendatang. Pelaku pasar disarankan memantau pernyataan kebijakan dari pejabat AS serta perkembangan pasokan minyak global untuk mengantisipasi pergerakan rupiah dan emas.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Berbeda Custom Kembangkan Jasa Lukis pada Jaket, Sepatu, Interior
Berbeda Custom mengubah jaket, sepatu, dan tas jadi kanvas personal. Dari hobi kuliah ke usaha, kini layanan...
Saham BYAN Mengemuka, IAW Ingatkan Pengawasan Regulator
IAW minta pengawasan ketat atas saham BYAN jika perubahan pengendalian benar terjadi; regulator diminta mene...
Pemerintah Beri Fleksibilitas Penempatan DHE SDA, Simak Aturannya
Pemerintah memberi fleksibilitas penempatan DHE SDA lewat Pasal 18A PP 21/2026, atur negara, kriteria ekspor...
30 Perusahaan Raih IQSA Awards 2026, Dorong Budaya K3 Berkelanjutan
Sebanyak 30 perusahaan menerima IQSA Awards 2026 di Jakarta sebagai apresiasi penerapan QHSE yang konsisten...
BEI: Perdagangan Saham Sepekan Bergerak di Zona Negatif
Perdagangan saham BEI pada 24-28 Agustus 2026 berakhir negatif; IHSG turun 0,12% dan transaksi mengalami pen...
Kemenekraf Dorong UMKM Bukittinggi Bangkit lewat Desain Kemasan
Kemenekraf latih 50 UMKM Bukittinggi soal desain kemasan lewat program Ekraf Peduli untuk percepat pemulihan...