Teknologi

BRIN Kembangkan Implan Mandibula Personal dengan 3D Printing

Bagikan:
Prototipe implan mandibula dicetak 3D dari stainless steel SS316L

BRIN mengembangkan implan mandibula yang dapat dipersonalisasi menggunakan teknologi 3D printing logam untuk pasien trauma atau tumor rahang. Pengumuman itu disampaikan oleh Pusat Riset Komposit dan Biomaterial, ORNM, BRIN pada Rabu, 19 Agustus 2026 di Habibie Serpong. Pengembangan memakai data CT-scan untuk menyesuaikan bentuk implan dengan lekuk rahang pasien.

Desain yang bisa disesuaikan

Perekayasa Ahli Utama PRKB, Tika Mustika, mengatakan bahwa implan ini dirancang untuk menyesuaikan lekuk rahang dan lokasi luka atau tumor. Tujuannya adalah memberi solusi yang lebih tepat dibandingkan implan generik yang kerap digunakan dokter saat ini.

"Salah satu keunggulan dari implan mandibula ini adalah dapat dipersonalisasi mengikuti lekuk rahang dan lokasi trauma dari pasien. Hal itu berdasarkan data CT-scan,"

Selain bentuk, desain internal implan menyertakan pori-pori yang meniru struktur tulang asli. Struktur ini diharapkan mendukung integrasi jaringan tulang dengan implan di area yang tidak terluka.

"Di dalam struktur implan mandibula, dimasukkan pori-pori yang mewakili desain di dalam tulang yang sebenarnya. Desain dalam pori-pori ini akan membantu integrasi atau penempelan organik tulang ke rahang di jaringan yang tidak terluka," Tika memaparkan.

Material dan tahap pengembangan

Saat ini prototipe implan dicetak dari stainless steel SS316L menggunakan pencetakan 3D logam. Pilihan material ini didasari pertimbangan biaya produksi yang lebih rendah sehingga memungkinkan uji konsep dan variasi desain prototipe secara lebih ekonomis.

"Kami menggunakan SS316L pada tahap awal untuk mengembangkan berbagai variasi desain prototipe yang akan dicetak. Dengan material ini, kami dapat melakukan proof of concept dengan biaya yang lebih rendah," ia menambahkan.

Ke depan, riset akan berlanjut pada penggunaan titanium sebagai material tahap lanjut. Titanium dipertimbangkan karena sifatnya yang lebih ringan, kuat, dan lebih familiar di kalangan dokter meski biayanya relatif lebih tinggi.

"Kami berencana menggunakan titanium, meskipun dari segi biaya relatif lebih mahal, namun titanium lebih ringan dan juga lebih kuat. Selain itu titanium dinilai lebih familiar dikalangan dokter," ujarnya.

Kolaborasi dan rencana hilirisasi

BRIN mengembangkan prototipe ini bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk rumah sakit, akademisi, dan industri alat kesehatan. Kolaborasi diperlukan untuk mendapatkan masukan desain dari dokter spesialis bedah mulut dan maksilofasial sekaligus mempercepat uji klinis dan sertifikasi.

"Saat ini kami masih dalam tahap pembuatan prototipe. Kami juga bekerja sama dengan rumah sakit dan dokter spesialis bedah mulut dan maksilofasial untuk memperoleh masukan terkait desain implan yang dibutuhkan," ujarnya.

BRIN berharap inovasi ini dapat dihilirisasi melalui manufaktur dalam negeri untuk mendukung kemandirian industri alat kesehatan nasional dan menurunkan ketergantungan impor komponen implan.

Manfaat klinis dan langkah berikutnya

Implan yang dipersonalisasi menawarkan potensi pemulihan yang lebih baik karena bentuknya menyerupai struktur anatomi pasien. Tahap berikutnya meliputi pengujian laboratorium lebih lanjut, uji klinis, dan adaptasi material titanium pada prototipe lanjutan sebelum diproduksi massal.

Dengan pendekatan desain berbasis data medis dan produksi lokal, proyek ini berpotensi meningkatkan akses pasien terhadap solusi rekonstruksi rahang yang lebih presisi.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait