BRIN Kaji Pemanfaatan Singkong untuk Atasi Karhutla
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengkaji pemanfaatan singkong sebagai opsi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketua BRIN Arif Satria mengatakan kajian awal menunjukkan gagasan itu memungkinkan secara teoretik dan saat ini BRIN berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk persiapan teknis.
Kajian singkong untuk penanganan kebakaran
BRIN menilai singkong dapat dimanfaatkan dalam upaya mitigasi karhutla. Kajian mencakup kemungkinan aplikasi teknis dan bahan baku yang cocok. Kesimpulan sementara adalah konsep itu masuk akal dari sudut pandang ilmiah, namun masih memerlukan uji lapangan dan perencanaan operasional.
"Ya, BRIN sudah mengkaji. Artinya secara teoritik itu memang sangat memungkinkan,"
Koordinasi dengan Polri dan BMKG
Untuk mewujudkan gagasan ini, BRIN telah membuka komunikasi dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Koordinasi itu bertujuan menyiapkan aspek penegakan dan logistik bila pemanfaatan singkong dilanjutkan ke tahap implementasi.
"Dan BRIN sudah berkoordinasi dengan Polri dalam rangka untuk menyiapkan itu. Sekarang persiapan seperti apa ini kami juga sedang terus kami tunggu update-nya, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah ada hasilnya,"
Selain Polri, BRIN juga melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terutama untuk sinkronisasi teknologi terkait cuaca. Langkah ini penting mengingat kebijakan operasional modifikasi kondisi atmosfer membutuhkan data meteorologi yang akurat.
Material pendukung modifikasi cuaca
Dalam kajian, tim riset BRIN menemukan beberapa material yang potensial untuk mendukung teknologi modifikasi cuaca. Di antaranya adalah Jumakron dan natrium klorida (NaCl) berukuran 25 mikron. Material ini dinilai layak sebagai partikel pemicu kondensasi atau agen lain dalam proses pengendalian kebakaran berkaitan dengan cuaca.
- Jumakron
- Natrium klorida (NaCl) 25 mikron
"Yang jelas kami dengan Polri terkait dengan Karhutla ini, termasuk dengan BMKG, kami juga sudah koordinasi untuk modifikasi cuaca,"
Langkah selanjutnya dan tantangan
BRIN menegaskan masih perlu evaluasi teknis lebih lanjut, termasuk uji lapangan dan kajian dampak lingkungan. Selain itu, aspek regulasi dan prosedur operasi bersama dengan Polri dan BMKG harus dirampungkan sebelum implementasi. Jika semua berjalan sesuai rencana, BRIN berharap hasil kajian praktis dapat diumumkan dalam waktu dekat.
Pengembangan solusi berbasis sumber daya lokal seperti singkong dapat membuka alternatif mitigasi karhutla, asalkan didukung data ilmiah, koordinasi antar-institusi, dan uji keselamatan lingkungan yang ketat.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
UIII Luluskan 34 Doktor Perdana dari 22 Negara
UIII meluluskan 34 doktor perdana dan 170 magister pada wisuda 27 Agustus 2026, dengan lulusan dari 22 negar...
UPH Festival 2026 Tutup: Mahasiswa Baru Diajak Temukan Panggilan
UPH menutup Festival 2026 pada 15 Agustus dengan tema "Called: Why Am I Here?", mendorong mahasiswa baru men...
ADCS Dorong Inovasi Telekomunikasi untuk Tangani Bencana
Heru Sutadi dari ADCS mendorong kendaraan taktis telekomunikasi dan perlindungan konsumen untuk mempercepat...
Sejumlah Kaktus di Kebun Raya Cibodas Tersisa 1 Spesimen, Begini Upayanya
BRIN dan Kebun Raya Cibodas mencatat beberapa kaktus tersisa satu spesimen; upaya perbanyakan dilakukan lewa...
Kominfo Panggil Meta Usai Gelombang Pemblokiran Akun WhatsApp
Kominfo memanggil Meta setelah banyak akun WhatsApp diblokir; kementerian minta penjelasan dan pemulihan aks...
Indonesia-Malaysia Perkuat Rantai Pasok Baterai EV di ASEAN
Indonesia dan Malaysia memperkuat kerja sama pengembangan ekosistem dan rantai pasok baterai EV untuk tingka...