Permintaan Data Center Indonesia Melonjak, Antrean Kapasitas hingga 1 Tahun
Jakarta. Permintaan kapasitas data center di Indonesia meningkat tajam sehingga pelanggan harus menunggu antara enam bulan hingga satu tahun untuk mendapat kapasitas yang dibutuhkan, kata Sigit Puji Santosa, Chief Technology Officer Danantara Indonesia, di Jakarta, Kamis.
Permintaan kapasitas melampaui pasokan
Sigit mengatakan permintaan begitu kuat sehingga kapasitas baru yang dibangun hampir langsung terserap pasar. "Jika kita membangun 100 megawatt atau 200 megawatt, itu akan langsung terambil," ujar Sigit.
Dia menambahkan bahwa saat ini Indonesia memiliki sekitar 45 data center skala besar, namun kapasitas tersebut masih belum cukup untuk mengikuti laju pertumbuhan infrastruktur digital nasional. Akibatnya, antrian pelanggan menjadi panjang.
Dukungan dan rencana Danantara
Danantara menyatakan siap berpartisipasi dalam perluasan sektor ini. Peran yang ditawarkan mencakup dukungan teknologi dan komponen lain yang dibutuhkan industri data center.
Menurut Sigit, dukungan itu bukan hanya pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga pemenuhan kebutuhan pada tingkat komponen dan subsistem.
Fokus pada semikonduktor dan AI chips
Selain memperluas data center, Danantara menaruh perhatian pada pengembangan semikonduktor, khususnya AI chips, seiring percepatan permintaan perangkat komputasi canggih secara global.
Perusahaan telah menjalin kemitraan dengan perusahaan semikonduktor asal Inggris, Arm, untuk mengembangkan desain chip. Beberapa perusahaan BUMN Indonesia juga terlibat dalam inisiatif ini.
"Permintaan global untuk AI chips meningkat tajam, membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan ekosistem teknologi digital yang lebih luas," kata Sigit.
Hambatan yang harus diatasi
Meski peluangnya besar, Sigit mengakui ada hambatan signifikan yang menghambat ekspansi infrastruktur digital. Masalah utama meliputi keterbatasan pasokan listrik serta proses dan regulasi yang kompleks.
"Tantangannya cukup besar, tetapi peluangnya juga besar," tambah Sigit.
Dengan kondisi saat ini, percepatan pembangunan data center dan ekosistem semikonduktor akan membutuhkan koordinasi kebijakan, penyederhanaan regulasi, serta investasi di sektor energi dan rantai pasok komponen. Jika hambatan itu ditangani, Indonesia berpeluang merebut bagian lebih besar dari pertumbuhan teknologi digital regional dan global.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
NASA Siapkan SunRISE Pantau Ledakan Matahari 2027
NASA menargetkan peluncuran misi SunRISE pertengahan 2027 untuk memantau gelombang radio ledakan Matahari da...
Hari Komunikasi Damai: Etika Komunikasi Digital yang Diperlukan
Peringatan 7 Oktober mendorong etika komunikasi digital untuk mencegah kebencian, misinformasi, dan perundun...
NASA Uji Metode Hadapi Tetesan Air Superdingin di Awan
NASA menguji metode baru di Icing Research Tunnel untuk memahami dan mengatasi bahaya pembentukan es dari te...
HP OmniBook 5 Tantang MacBook Neo di Segmen Laptop Terjangkau
HP OmniBook 5 diluncurkan 5 Oktober 2026 dan menantang MacBook Neo lewat layar OLED, pilihan prosesor, dan k...
Apa Itu Black Hole? Fakta Ilmiah dan Penjelasan NASA
Ringkasan definisi black hole, event horizon, accretion disk, dan cara astronom mengamatinya menurut penjela...
Pemeriksaan Ci Mehong Soroti Bahaya Manipulasi Konten Digital
Pemeriksaan Ci Mehong di Polda Metro menyoroti risiko manipulasi konten digital yang mengubah konteks dan me...