NASA Aktifkan Kembali Dua Instrumen Observatorium Swift
NASA mengaktifkan kembali dua instrumen pada Neil Gehrels Swift Observatory pada Rabu, 26 Agustus 2026. Reaktivasi dilakukan setelah rencana peningkatan orbit dihentikan akibat masalah teknis pada wahana servis. Kembalinya operasi bertujuan melanjutkan pengamatan ilmiah sebelum wahana turun lebih jauh karena hambatan atmosfer.
Instrumen yang kembali beroperasi
Tim Swift menyalakan kembali teleskop Ultraviolet/Optical dan teleskop X-ray pada 26 Agustus. Kedua perangkat ini sebelumnya dimatikan sejak Februari untuk mengurangi hambatan atmosfer dan memperpanjang umur misi.
Sementara itu, Burst Alert Telescope masih berhenti operasi sejak April untuk menghemat daya. NASA menargetkan instrumen tersebut dapat mulai mengumpulkan data lagi dalam beberapa pekan mendatang.
Status misi dan tantangan orbit
Swift telah digunakan selama 21 tahun untuk mempelajari berbagai fenomena kosmik. Observatorium ini mampu mengamati banyak spektrum cahaya dan dengan cepat mengarahkan teleskop ke ledakan singkat di langit. Selain pengamatan, Swift juga mengirim peringatan ke fasilitas lain saat terjadi peristiwa penting.
Namun operasional Swift terganggu oleh peningkatan hambatan atmosfer. Aktivitas Matahari yang meningkat membuat lapisan atmosfer mengembang sehingga menambah drag. Akibatnya ketinggian Swift menurun lebih cepat dari perkiraan.
Upaya layanan on-orbit dan masalah teknis
NASA sempat menggandeng perusahaan komersial untuk meningkatkan orbit Swift. Wahana servis bernama LINK diluncurkan pada Juli untuk menangkap dan mengangkat Swift ke ketinggian yang lebih aman.
Sayangnya, wahana LINK mengalami masalah pengendalian orientasi sehingga tidak dapat melakukan penangkapan dan peningkatan orbit seperti direncanakan. Meski gagal pada tugas utama, perusahaan pelaksana masih akan melakukan pertemuan dan operasi jarak dekat dengan Swift.
Langkah tersebut dimaksudkan untuk menguji teknologi pelayanan satelit di orbit. Pengujian ini dinilai penting bagi misi pelayanan antariksa komersial di masa depan.
Dampak operasional dan prospek ke depan
NASA memperkirakan Swift masih bisa beroperasi hingga mencapai ketinggian sekitar 300 kilometer. Dengan reaktivasi dua instrumen ilmiah, observatorium diperkirakan akan mencapai batas ketinggian itu dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Reaktivasi ini memberi waktu lebih untuk mengumpulkan data dan mendukung komunitas astronomi. Namun masa depan misi tetap bergantung pada peluang servis ulang atau kondisi atmosfer yang berubah.
Dengan kondisi saat ini, fokus tim adalah mempertahankan kemampuan pengamatan Swift sambil menilai opsi layanan orbit yang tersedia.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
UIII Dorong Lulusan Jadi Policy Maker Berbasis Keahlian dan Integritas
UIII mendorong lulusan menjadi policy maker berintegritas dan berkeahlian spesifik. Wisuda ke-4 di Depok mel...
UIII Luluskan 34 Doktor Perdana dari 22 Negara
UIII meluluskan 34 doktor perdana dan 170 magister pada wisuda 27 Agustus 2026; lulusan internasional datang...
Aplikasi Pantau Gempa dan Peringatan Tsunami yang Perlu Dimiliki
Ringkasan aplikasi dan situs pantau gempa yang penting, termasuk peran BMKG dan InaTEWS setelah gempa besar...
UIII Luluskan 34 Doktor Perdana dari 22 Negara
UIII meluluskan 34 doktor perdana dan 170 magister pada wisuda 27 Agustus 2026, dengan lulusan dari 22 negar...
UPH Festival 2026 Tutup: Mahasiswa Baru Diajak Temukan Panggilan
UPH menutup Festival 2026 pada 15 Agustus dengan tema "Called: Why Am I Here?", mendorong mahasiswa baru men...
ADCS Dorong Inovasi Telekomunikasi untuk Tangani Bencana
Heru Sutadi dari ADCS mendorong kendaraan taktis telekomunikasi dan perlindungan konsumen untuk mempercepat...