Ketidakakuratan Data Desil Bikin Warga Miskin Kehilangan Bansos di Malang
Malang — Ketidakakuratan klasifikasi desil di Kabupaten Malang membuat sejumlah warga miskin dan kelompok rentan tercatat sebagai warga mampu, sehingga hilang akses bantuan sosial dan medis. Keluhan warga muncul sejak Juni 2026 dan dipersoalkan anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Zulham Akhmad Mubarrok, pada 3 September 2026.
Temuan dan dampak di lapangan
Zulham menerima gelombang pengaduan dari warga yang kini terhapus dari daftar penerima bansos. Ia menemukan sejumlah penyandang disabilitas masuk kategori desil di atas lima, sehingga tak lagi mendapat fasilitas bansos maupun bantuan medis.
"Memang akhirnya jadi memicu ketidakadilan di lapangan. Banyak warga yang kondisi ekonominya memburuk malah status desilnya dinaikkan ke desil di atas 5 atau kategori mampu,"
Contoh konkret terjadi di Desa Talok, Kecamatan Turen, di mana sekitar 20 warga berpenghasilan rendah tercatat sebagai masyarakat mampu. Ada laporan warga serabutan berpenghasilan sekitar Rp500.000 per bulan yang masuk desil 8.
Penyebab: parameter penilaian yang kurang tepat
Zulham menilai sumber kesalahan utama adalah parameter penentuan desil yang terlalu mengandalkan tampilan fisik tempat tinggal, seperti foto muka rumah atau kondisi dapur. Padahal kondisi fisik tidak selalu mencerminkan pendapatan atau status kepemilikan.
"Belum lagi ada warga miskin yang menumpang di rumah anak atau kerabat secara otomatis dianggap mampu hanya karena tampilan fisik rumah yang ditempati terlihat layak,"
Akibatnya, data yang menjadi dasar penyaluran bansos tidak akurat dan menimbulkan ketidakadilan distribusi bantuan.
Rekomendasi dan langkah bagi warga terdampak
Zulham mendorong evaluasi menyeluruh terhadap indikator penentuan desil agar klasifikasi kesejahteraan mencerminkan kondisi ekonomi riil keluarga. Ia juga menjelaskan mekanisme sanggahan bagi warga yang terdampak.
- Ajukan sanggahan melalui aplikasi Cek Bansos atau kanal daring resmi yang tersedia.
- Proses verifikasi sanggahan biasanya memakan waktu hingga sekitar tiga bulan.
- Bagi warga dengan kebutuhan mendesak, segera lapor ke Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Malang agar kasus diprioritaskan dan dapat dikomunikasikan langsung dengan Kementerian Sosial.
"Kalau mendesak, kami rekomendasikan lapor ke Dinsos. Nanti Dinsos akan kami ajak ke Jakarta untuk membuat komunikasi secara spesifik dengan Kementerian Sosial,"
Implikasi ke depan
Jika parameter penilaian tidak direvisi, risiko kesalahan klasifikasi akan terus menghambat penyaluran bantuan kepada yang berhak. Pembaruan metode evaluasi dan verifikasi lapangan diperlukan untuk mengembalikan akurasi data dan keadilan distribusi bansos di Kabupaten Malang.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Pendidikan Politik untuk Tangkal Apatisme Pemuda di Blitar
Guntur Wahono menggelar sosialisasi di Blitar (2/9/2026) menekankan pendidikan politik untuk atasi apatisme...
Festival Nyusu Bareng 2026 Angkat Susu Dusun Brau sebagai Wisata Edukasi
Festival Nyusu Bareng 2026 akan promosikan susu Dusun Brau sebagai wisata edukasi sekaligus memperkuat ekono...
Festival Nyusu Bareng 2026: Dorong Susu Dusun Brau Jadi Wisata Edukasi
Khamim Tohari dorong Festival Nyusu Bareng pertengahan September 2026 untuk promosikan susu Dusun Brau dan t...
Surabaya Perketat Pengawasan Anak Jalanan di Makam Sunan Ampel
Wali Kota Surabaya memperketat pengawasan anak jalanan dan pengamen di Makam Sunan Ampel setelah keluhan pez...
Warga Jember Protes Biaya Pencalonan Pilkades Mahal
Warga Jember khawatir biaya pencalonan tinggi menghalangi tokoh potensial maju pada Pilkades 2027; warga dan...
Bupati Banyuwangi Bahas Pendidikan di Gesah Bareng Ambi Bupati
Forum Gesah Bareng Ambi Bupati di Banyuwangi bahas beasiswa, pengawasan pelajar, sarana sekolah, regrouping,...