Roket NASA Ungkap Struktur Kompleks sporadic E yang Ganggu Sinyal
NASA berhasil mengungkap struktur kompleks lapisan atmosfer sporadic E yang berpotensi mengganggu sinyal radio, komunikasi jarak jauh, radar, dan sistem GPS. Temuan itu diumumkan dalam rilis resmi pada Kamis, 3 September 2026, berdasarkan data dari misi SpEED Demon yang diluncurkan dari Wallops Flight Facility, Virginia, pada 24 Agustus 2022.
Metode pengamatan multi-probe
Misi SpEED Demon adalah roket suborbital yang membawa rangkaian instrumen untuk mengamati lapisan ionosfer. Roket itu membawa lima detektor plasma, termasuk empat dropsondes yang dilepaskan ke jalur berbeda.
- Lima detektor plasma untuk mengukur kepadatan dan karakteristik medan listrik.
- Empat dropsondes yang bergerak ke lokasi terpisah sehingga dapat mengamati lapisan dari beberapa titik sekaligus.
Pendekatan ini memungkinkan pengamatan multi-lokasi pertama di dalam lapisan sporadic E, memberi dimensi baru pada pemahaman struktur dan dinamika lapisan tersebut.
Hasil pengamatan: struktur tidak seragam
Data menunjukkan lapisan sporadic E tidak berbentuk lembaran padat dan seragam seperti yang diperkirakan sebelumnya. Sebaliknya, struktur lapisan lebih tidak merata dan dipengaruhi oleh turbulensi angin di atmosfer.
Pada fase kembali ke Bumi, pengukuran mencatat pembelahan lapisan menjadi dua puncak berbeda. Para peneliti menduga pola ini berkaitan dengan ketidakstabilan Kelvin-Helmholtz, namun hipotesis itu masih memerlukan verifikasi melalui pengamatan lanjutan.
Dampak pada komunikasi dan navigasi
Sporadic E terbentuk dari partikel logam hasil meteor yang terbakar di atmosfer. Partikel ini dapat memantulkan gelombang radio ke arah tak terduga, sehingga berpotensi:
- mengganggu komunikasi radio jarak jauh,
- mempengaruhi operasi radar,
- menambah ketidakpastian posisi pada sistem GPS.
Dengan pemahaman struktur yang lebih rinci, operator komunikasi dan pengelola sistem navigasi dapat memperbaiki model koreksi gangguan dan strategi mitigasi.
Langkah selanjutnya
Keberhasilan SpEED Demon mendorong pengembangan teknik pengamatan multi-probe untuk misi berikutnya. Pendekatan serupa telah dipakai pada penelitian atmosfer saat gerhana Matahari pada 2023 dan 2024, serta misi SEED pada Juni 2025.
Peneliti berencana mengulang pengamatan dengan alat lebih sensitif dan cakupan lebih luas untuk mengonfirmasi dugaan ketidakstabilan dan memetakan variasi spasial lapisan secara lebih detail.
Hasil awal ini memberi pijakan penting untuk memahami bagaimana gangguan ionosfer dapat mempengaruhi infrastruktur komunikasi dan navigasi di masa mendatang.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
Parker Solar Probe Dekati Matahari, Capai 430 Ribu Mil/Jam
Parker Solar Probe mendekati Matahari 4 Sept 2026, melintas 6,1 juta km dan mencapai 430 ribu mil/jam sambil...
NASA Tambah Roket Terran R ke Kontrak Peluncuran NLS II
NASA menambahkan layanan peluncuran Terran R ke kontrak NLS II melalui ketentuan on-ramp, memperluas opsi pe...
Merkurius Menyusut Lebih Cepat, Inti Planet Terungkap
Merkurius menyusut 10–30% lebih cepat, dengan diameter hampir 19 km, mengungkap petunjuk baru tentang ukuran...
Telkomsat Luncurkan VSAT STAR, Jaga Konektivitas Kapal di Tengah Laut
Telkomsat meluncurkan VSAT STAR, layanan satelit hingga 200 Mbps per site untuk menjaga konektivitas kapal t...
NASA Bentuk Akademi Antariksa AS, 300 Siswa Ditargetkan 2028
NASA mulai membentuk United States Space Academy; 300 siswa pertama direncanakan menempati fasilitas sementa...
Satelit NASA Rekam Badai Debu di Mali, Partikel Meluas ke Atlantik
Satelit Terra NASA merekam badai debu di Mali pada 5 September 2026; partikel bergerak ke barat hingga Samud...