Benarkah Susu Wajib dalam Menu Bergizi? Penjelasan Kemenkes
Susu tidak wajib dalam pola makan bergizi, kata Kementerian Kesehatan. Meski kaya protein, kalsium, dan vitamin, kebutuhan gizi bisa dipenuhi melalui makanan lain jika pola makan beragam dan seimbang. Pernyataan ini sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menekankan keberagaman kelompok makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
Susu sebagai sumber gizi
Susu memang mengandung protein, lemak, karbohidrat, kalsium, serta sejumlah vitamin dan mineral. Karena itu, susu sering direkomendasikan sebagai salah satu pilihan untuk melengkapi asupan harian. Kementerian Kesehatan memasukkan susu dalam kelompok lauk-pauk sebagai sumber protein, bersama ikan, telur, unggas, dan kacang-kacangan.
Alternatif untuk protein dan kalsium
Namun, susu bukan satu-satunya pilihan untuk mendapatkan protein atau kalsium. Ada banyak makanan lain yang memberikan nutrisi serupa, sehingga orang yang tidak mengonsumsi susu tetap dapat memenuhi kebutuhan gizinya.
- Sumber protein: ikan, telur, unggas, daging, kacang-kacangan, tahu, tempe
- Sumber kalsium selain susu: ikan yang dimakan bersama tulangnya, tahu, tempe, kacang-kacangan, beberapa jenis sayuran
Dengan demikian, seseorang yang menghindari susu—misalnya karena alergi, intoleransi laktosa, preferensi pola makan, atau alasan budaya—tidak otomatis mengalami kekurangan gizi jika mengganti dengan sumber lain yang tepat.
Mengatur pola makan bergizi
WHO dan Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya mengonsumsi berbagai kelompok makanan secara seimbang. Pola makan bergizi idealnya mencakup:
- sumber karbohidrat (biji-bijian)
- sumber protein hewani dan nabati
- sayur dan buah
- lemak sehat dalam jumlah cukup
Kebutuhan gizi berbeda-beda bergantung pada usia, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan. Oleh karena itu, pemilihan makanan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan individu dan, bila perlu, konsultasi dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi.
Kesimpulan
Susu dapat menjadi pilihan baik dalam menu sehari-hari, tetapi keberadaannya tidak wajib untuk mencapai pola makan bergizi. Yang utama adalah mengonsumsi makanan yang beragam, seimbang, dan sesuai kebutuhan tubuh agar semua zat gizi terpenuhi.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Resistensi Antibiotik: Penyebab, Risiko, dan Cara Mencegah
Resistensi antibiotik terjadi saat bakteri kebal obat; kenali penyebab, risiko, dan langkah pencegahan agar...
Layanan Kesehatan Pascagempa Pulih dalam Dua Pekan
Kemenkes menyatakan seluruh fasilitas kesehatan terdampak gempa kembali beroperasi dalam kurang dari dua min...
Kemenkes: 5,5 Juta Warga Sumatra-Kalimantan Terdampak Karhutla
Kemenkes catat 5–5,5 juta warga Sumatra-Kalimantan terdampak karhutla; 13.500 kasus ISPA tercatat Juli–Agust...
BPOM Kawal Terapi Sel: Sains, Risiko, dan Regulasi
BPOM mengawal pengembangan terapi sel di ACTO 2026 dengan pendekatan sains dan risiko untuk menjamin keamana...
CKG Jadi Pintu Masuk Jaga Kesehatan Anak, Kata Wamen PPPA
Wamen PPPA Veronica Tan menyatakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai pintu masuk pencegahan dan pembentukan...
Pneumonia di Pontianak Naik 20% Imbas Kabut Asap Karhutla
Rumah Sakit Bhayangkara Pontianak melaporkan kenaikan kasus pneumonia 20% pada 29 Agustus 2026 akibat membur...