IHSG Turun ke 6.595,78, Investor Resah oleh Kenaikan Harga Minyak
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.595,78 pada penutupan sesi Rabu, 2 September 2026, turun 4,17 poin (0,06 persen). Penurunan ini dipicu oleh sentimen global, terutama lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Penutupan dan Aktivitas Perdagangan
Pergerakan pasar domestik didominasi pelemahan saham dengan 321 saham turun, 282 saham naik, dan 186 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp16,48 triliun, sementara volume perdagangan mencapai 63,24 miliar lembar dan frekuensi lebih dari 2,44 juta kali transaksi.
Sentimen Global dan Lonjakan Harga Minyak
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menjelaskan bahwa bursa global melemah seiring kekhawatiran meroketnya harga minyak setelah serangan yang menargetkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran. Kenaikan harga minyak mendorong yield obligasi AS naik, memicu ketidakpastian soal arah kebijakan suku bunga The Fed.
"Bursa saham di Amerika Serikat (AS) anjlok, indeks Dow Jones Industrial Average ambles lebih dari 400 poin,"
Fanny menambahkan bahwa harga minyak mentah WTI telah naik sekitar 5,2 persen, sedangkan Brent naik sekitar 4,6 persen sejak awal pekan.
"Di sisi lain, The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan berikutnya dalam dua pekan mendatang,"
Dampak pada Pasar Regional
Kenaikan harga minyak juga menekan bursa Asia pada sesi sebelumnya. Sebagian besar indeks kawasan melemah, kecuali beberapa pasar yang menunjukkan penguatan tipis.
- Nikkei 225 (Jepang) turun sekitar 0,15%.
- Hang Seng (Hong Kong) turun sekitar 0,93%.
- Taiex (Taiwan) menguat sekitar 1,8%.
- KOSPI (Korea Selatan) naik sekitar 0,23%.
Data Inflasi Domestik dan Implikasinya
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan per Agustus 2026 sebesar 0,21%. Inflasi tahun ke tahun tercatat 3,19%, naik dari 2,88% pada bulan sebelumnya. Fanny menilai data inflasi domestik menjadi faktor tambahan yang diperhatikan pelaku pasar saat menilai prospek suku bunga dan arus modal.
Secara keseluruhan, kombinasi kenaikan harga minyak global dan data makro yang dinamis membuat investor berhati-hati menjelang rilis data tenaga kerja AS nonfarm payrolls untuk Agustus 2026. Sentimen ini berpeluang menentukan arah pasar dalam beberapa sesi mendatang.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Investasi Rp776 M: Hilirisasi Kelapa di Morowali Serap 2.900
Investasi Rp776 miliar untuk industri kelapa terintegrasi di Morowali diarahkan untuk hilirisasi, serap 2.90...
Rupiah Menguat 0,05% ke Rp17.632 pada 8 September 2026
Rupiah menguat 0,05% ke Rp17.632 pada 8 Sept 2026, dipengaruhi sentimen Selat Hormuz, data inflasi AS, dan c...
OJK: 58 Dana Pensiun Dibubarkan Sejak 2020, Aset Justru Tumbuh
OJK mencatat 58 dana pensiun dibubarkan sejak 2020, namun aset industri naik menjadi Rp1.699,99 triliun hing...
OJK Tuntaskan 187 Perkara Pidana Sektor Jasa Keuangan
OJK menyelesaikan 187 penyidikan pidana sektor jasa keuangan hingga 31 Agustus 2026, mayoritas di sektor per...
OJK Siapkan Mekanisme Harga untuk Bursa Mineral Komoditas
OJK menyiapkan dua RPOJK dan mekanisme price discovery untuk pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strateg...
OJK: Pembiayaan Modal Ventura Turun 0,46% Hingga Juli 2026
OJK mencatat pembiayaan modal ventura hingga Juli 2026 sebesar Rp16,32 triliun, terkontraksi 0,46% YoY, seme...