Surplus Neraca Perdagangan Rp2,12 T pada Juli 2026 Ditopang Nonmigas
Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatat surplus sebesar USD0,12 miliar (Rp2,12 triliun), terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatat surplus lebih besar dibanding defisit migas pada periode sama.
Ringkasan kinerja Juli 2026
Perdagangan nonmigas pada Juli 2026 mencatat surplus USD3,10 miliar (Rp54,84 triliun)USD2,98 miliar (Rp52,72 triliun). Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD26,22 miliar (Rp463,83 triliun), naik 2,98 persen dibanding Juni 2026 secara bulanan.
“Surplus perdagangan pada Juli 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga,”
“Karena itu, diversifikasi pasar dan komoditas ekspor perlu terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusi sektor nonmigas.”
Detail ekspor nonmigas
Ekspor nonmigas tumbuh 4,25 persen secara bulanan dibandingkan Juni 2026. Total ekspor nonmigas pada Juli 2026 mencapai USD25,43 miliar (Rp449,86 triliun), meningkat 6,84 persen year-on-year.
Peningkatan bulanan didorong oleh komoditas tertentu yang mencatat lonjakan signifikan.
- Mesin dan peralatan mekanis: naik 23,05%
- Tembaga dan produk turunannya: naik 21,20%
- Pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan): naik 20,65%
Kontribusi komoditas dan kinerja kumulatif
Secara kumulatif Januari–Juli 2026, surplus perdagangan tercatat USD3,70 miliar (Rp65,45 triliun). Surplus ini datang dari perdagangan nonmigas sebesar USD22,45 miliar (Rp397,14 triliun), yang menutupi defisit migas USD18,75 miliar (Rp331,69 triliun).
Kontribusi utama surplus nonmigas periode Januari–Juli berasal dari:
- Lemak dan minyak hewani/nabati: USD20,96 miliar (Rp370,78 triliun)
- Bahan bakar mineral: USD16,39 miliar (Rp289,94 triliun)
- Besi dan baja: USD10,32 miliar (Rp182,56 triliun)
Peran industri pengolahan dan kebijakan
Menteri Perdagangan menyatakan sektor industri pengolahan menjadi penopang utama, dengan pertumbuhan ekspor industri pengolahan sebesar 7,16% dan kontribusi sebesar 82,18% terhadap total ekspor.
“Industri pengolahan menjadi salah satu kekuatan utama ekspor Indonesia,”
“Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk ekspor perlu terus dilakukan.”
Pemerintah menegaskan akan menjaga keseimbangan antara penguatan pasar domestik dan upaya meningkatkan ekspor melalui peningkatan nilai tambah, diversifikasi pasar, serta pemenuhan kebutuhan produksi dalam negeri.
Dengan dukungan penguatan hilirisasi dan diversifikasi komoditas, diharapkan kinerja perdagangan Indonesia tetap tumbuh berkelanjutan ke depan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...