Ekonomi

IHSG Menguat ke 6.632,83 di Sesi I, Analis Prediksi Sideways

Bagikan:
Grafik pergerakan IHSG menguat pada sesi pembukaan Bursa Efek Indonesia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada sesi I perdagangan Kamis, 3 September 2026, berada di level 6.632,83 atau naik 37,05 poin (0,56%) dari penutupan sebelumnya. Kenaikan pembukaan ini terjadi setelah IHSG ditutup turun tipis pada Rabu.

Pembukaan perdagangan dan konteks singkat

Pembukaan menguat pada sesi pertama ini menandai reaksi pasar setelah penutupan hari sebelumnya di level 6.595,78, turun 0,06 persen pada Rabu, 2 September 2026. Pasar tampak berhati-hati menjelang perkembangan ekonomi dan kebijakan makro yang segera diumumkan.

Faktor penggerak dan analisis teknis

Analis Pasar Modal dari Tim Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak sideways (datar) pada perdagangan hari ini. Menurut tim analis, tekanan datang dari aktivitas jual yang cukup tinggi di pasar.

"Secara teknikal, IHSG tertekan oleh volume jual. Sehingga hari ini, pergerakan IHSG diprakirakan 'sideways' (datar) di kisaran 6.550-6.650," kata Analis Pasar Modal dari Tim Phintraco Sekuritas.

Tim Phintraco menambahkan bahwa jika indeks berhasil menembus level 6.550, maka IHSG berpotensi menguji level di bawah 6.500. Pernyataan ini menunjukkan perhatian terhadap ketahanan suport di level bawah.

Pengaruh global: yield obligasi dan sentimen investor

Menurut analis, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di negara-negara maju menjadi salah satu faktor eksternal utama. Kenaikan yield ini didorong oleh antisipasi kenaikan suku bunga terkait potensi lonjakan inflasi.

"Kenaikan yield untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga di tengah potensi meningkatnya kembali inflasi. Sehingga investor global cenderung memasuki mode risk-off (menghindari risiko)," ujar Tim Phintraco.

Akibatnya, investor berpotensi mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti US-Treasury, yang menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko relatif lebih rendah.

Dampak pada pasar domestik

Peralihan modal global ini bisa menekan nilai tukar rupiah, mendorong kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), dan meningkatkan biaya modal bagi perusahaan. Namun Tim Phintraco melihat beberapa faktor domestik yang dapat meredam tekanan eksternal.

"Prospek pertumbuhan ekonomi domestik, kebijakan BI, kenaikan harga komoditas, serta aksi korporasi emiten diharapkan dapat mengimbangi tekanan global," kata Tim Phintraco.

Asumsi RAPBN 2027 dan catatan fiskal

Pada Rabu, Pemerintah dan Komisi XI DPR menyepakati asumsi dasar makro RAPBN 2027. Beberapa target utama yang ditetapkan meliputi:

  • Pertumbuhan ekonomi 6 persen.
  • Inflasi 2,5 persen.
  • Nilai tukar rupiah dipatok pada Rp17.500 per dolar AS.
  • Yield SBN 10 tahun diasumsikan 6,9 persen.

Belanja pemerintah akan diarahkan untuk investasi, termasuk infrastruktur, hilirisasi, pangan, energi, pendidikan, dan kesehatan. Meski demikian, analis mengingatkan investor untuk mencermati kredibilitas fiskal, khususnya pengelolaan defisit anggaran.

"Namun investor perlu mencermati kredibilitas fiskalnya. Khususnya dalam mengelola defisit anggaran," kata Tim Phintraco menutup analisisnya.

Secara keseluruhan, pembukaan IHSG yang menguat di awal sesi mencerminkan keseimbangan antara sentimen domestik yang positif dan tekanan eksternal dari kenaikan yield global. Pergerakan ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi global dan keputusan kebijakan fiskal dan moneter domestik.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait