Komisi XI dan Pemerintah Sepakati Asumsi Makro RAPBN 2027
Komisi XI DPR dan pemerintah menyepakati asumsi dasar ekonomi makro untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dalam rapat kerja di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu, 2 September 2026. Kesepakatan mencakup sasaran pembangunan, revisi beberapa indikator, serta pengaturan penggunaan instrumen fiskal seperti SAL dan skema pembiayaan.
Ringkasan kesepakatan
Ketua Komisi XI, Mukhamad Misbakhun, menyatakan seluruh hasil pembahasan disetujui bersama dan menjadi dasar penyusunan RAPBN 2027. Kesepakatan ini juga memuat rekomendasi pengawasan terhadap defisit dan utang negara serta langkah-langkah memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter.
Misbakhun menyampaikan persetujuan rapat dan menyatakan hasil pembahasan disetujui bersama.
Perubahan target indikator
Dalam pembahasan tercatat penyesuaian target beberapa indikator pembangunan. Target kemiskinan ekstrem diubah menjadi 0 hingga 0,5 persen, dari sebelumnya 0 persen. Sementara itu, rasio Gini disepakati pada rentang 0,360 hingga 0,365, turun dari target awal 0,362 hingga 0,367 dalam Nota Keuangan RAPBN 2027.
Pengawasan defisit, utang, dan pembiayaan
Komisi XI menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap defisit dan utang negara. Pemerintah disarankan memperluas basis investor serta mengoptimalkan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan pembiayaan terintegrasi untuk menjaga keberlanjutan fiskal.
Penggunaan saldo anggaran lebih yang kita kenal dengan SAL pada tahun anggaran berjalan harus mendapatkan persetujuan seperti DPR, sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Pengelolaan SAL agar tetap dilakukan secara prudent dan optimal sebagai instrumen penyangga atau fiscal buffer dalam menghadapi ketidakpastian.
Kewajiban laporan dan arah pembiayaan
Komisi XI mewajibkan pemerintah menyampaikan laporan profil utang secara berkala kepada DPR. Selain itu, pembiayaan utang diminta difokuskan untuk kegiatan produktif yang mendukung pembukaan lapangan kerja. Pembiayaan non-utang juga diarahkan untuk sektor perumahan masyarakat berpenghasilan rendah.
- Perluasan basis investor
- Optimalisasi KPBU dan pembiayaan terintegrasi
- Pelaporan profil utang secara berkala kepada DPR
- Pembiayaan non-utang untuk perumahan masyarakat berpenghasilan rendah
Pemerintah dan bank Indonesia memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter dan sektor keuangan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan pasar keuangan. Sekaligus memastikan APBN tetap mampu menjalankan fungsi sebagai shock absorber dan agent of development di tengah ketidakpastian perekonomian global.
Tanggapan pemerintah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyambut baik hasil pembahasan dan menyatakan pemerintah akan menindaklanjuti seluruh masukan untuk menyempurnakan kebijakan serta arsitektur RAPBN 2027.
Semoga seluruh ikhtiar, pemikiran, dan kerja bersama yang telah kita lakukan menjadi bagian dari upaya besar. Untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur.
Kesepakatan ini menjadi titik penting sebelum RAPBN 2027 difinalisasi. Pengawasan DPR terhadap penggunaan instrumen fiskal dan arah pembiayaan akan menjadi indikator kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi dan efektivitas belanja negara di tahun mendatang.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...