Rupiah Turun 19 Poin, Tekanan Geopolitik dan Spekulasi The Fed
Rupiah ditutup melemah 0,11 persen atau 19 poin ke posisi Rp17.763 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 2 September 2026. Pelemahan dipicu oleh tekanan geopolitik, spekulasi kenaikan suku bunga The Fed, serta tekanan inflasi domestik.
Penutupan pasar
Mengacu pada data pasar, nilai tukar rupiah berakhir lebih lemah setelah bergerak fluktuatif sepanjang hari. Pelemahan 19 poin tercatat sebagai reaksi pasar terhadap meningkatnya risiko eksternal dan data inflasi yang menguat.
Tekanan eksternal: geopolitik dan The Fed
Pasar menilai eskalasi konflik internasional dan sinyal pengetatan moneter AS sebagai dua faktor utama pelemahan rupiah. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa serangan antarmiliter memperlebar risiko geopolitik dan menekan pasar komoditas.
"Militer AS dan Iran saling serang menyebabkan konflik semakin meluas. Sehingga berimbas pada naiknya harga minyak mentah dunia,"
Selain itu, retorika pejabat The Fed dalam forum ekonomi internasional mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga. Alat penentu pasar CME FedWatch Tool menunjukkan sekitar 65 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan ini, naik dari sekitar 40 persen pekan lalu. The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan 15-16 September 2026.
"Barr mengingatkan, jika inflasi tidak segera melambat, saatnya untuk menaikkan suku bunga,"
Data domestik: inflasi dan perdagangan
Di dalam negeri, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan Agustus 2026 sebesar 0,21 persen. Angka itu berbalik dari kondisi pada Juni yang tercatat deflasi sekitar -0,14 persen. Secara tahunan, inflasi tercatat 3,19 persen, meningkat dari 2,88 persen pada bulan sebelumnya.
Ibrahim menyoroti lonjakan harga komoditas pangan pada Agustus yang menambah beban bagi daya beli masyarakat. Tekanan harga domestik ini menambah alasan pasar untuk memperkirakan langkah moneter yang lebih ketat di AS dan menguatkan arus modal ke aset dolar.
Sisi positif, surplus neraca perdagangan Juli disebut membantu meredam tekanan eksternal berlebih setelah kinerja ekspor melampaui ekspektasi.
Proyeksi Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia yang baru dilantik, Destry Damayanti, menyampaikan proyeksi makro untuk 2027. Proyeksi utama meliputi:
- Pertumbuhan PDB di kisaran 5,2–6 persen
- Nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.300–17.800 per dolar AS
- Inflasi tetap di target 2,5 persen ±1 persen
Proyeksi tersebut mencerminkan upaya otoritas moneter menjaga stabilitas harga dan nilai tukar di tengah tekanan global.
Kesimpulan
Pelemahan rupiah pada penutupan 2 September 2026 merupakan respons pasar terhadap kombinasi risiko geopolitik, ekspektasi pengetatan The Fed, dan penguatan tekanan inflasi domestik. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh data inflasi mendatang, hasil pertemuan The Fed, dan perkembangan geopolitik yang sedang berlangsung.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...