Menkeu Perpanjang Penempatan SAL Rp200 Triliun hingga Juli 2027
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun diperpanjang hingga Juli 2027. Kebijakan ini diumumkan pada Rabu, 2 September 2026, di Kompleks Parlemen Jakarta untuk menjaga likuiditas perbankan dan mempercepat penyaluran kredit.
Perpanjangan penempatan SAL
Purbaya menyatakan dana Rp200 triliun tetap ditempatkan di bank-bank BUMN atau Himbara. Langkah ini dimaksudkan agar bank memiliki kepastian likuiditas dan dapat menyalurkan kredit lebih cepat.
"Kami perpanjang yang Rp200 triliun, diperpanjang lagi sampai Juli tahun depan dan tidak akan ditarik. Jadi bank bisa lebih tenang dan penyaluran kredit bisa lebih cepat,"
- Purbaya Yudhi Sadewa
Dampak pada likuiditas dan pertumbuhan kredit
Purbaya menjelaskan penempatan SAL efektif menjaga kestabilan likuiditas Himbara. Pemerintah juga terus memantau perkembangan uang primer atau base money sebagai indikator kondisi likuiditas sistem keuangan.
"Indikator itu menggambarkan kondisi likuiditas di sistem keuangan secara keseluruhan. Pertumbuhan base money pada Juli kemarin sudah menyentuh 18,3 persen,"
- Purbaya Yudhi Sadewa
Dengan kondisi likuiditas yang membaik, Purbaya menilai pertumbuhan kredit dapat didorong hingga lebih dari 20 persen. Saat ini data terakhir menunjukkan pertumbuhan kredit sebesar 13,8 persen, yang sudah meningkat berkat dukungan likuiditas.
Koordinasi antar-otoritas
Penguatan likuiditas dilakukan melalui sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan LPS. Menurut Purbaya, kesepahaman antarpihak dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi dasar pengelolaan SAL.
Ia menegaskan bahwa polemik mengenai rencana penarikan SAL dari bank Himbara telah selesai setelah ada acuan bersama. Seluruh anggota KSSK diklaim sepakat pada mekanisme penempatan dan penarikan dana pemerintah.
"Kami sudah memiliki acuan yang disetujui bersama. Jadi tidak ada lagi perdebatan yang perlu diributkan,"
- Purbaya Yudhi Sadewa
Implikasi bagi perekonomian
Purbaya memandang likuiditas yang terjaga akan mendorong aktivitas sektor swasta. Jika sektor swasta bergerak bersamaan dengan belanja pemerintah, ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi bisa melampaui 6 persen.
"Artinya, private sector bisa tumbuh jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika sektor swasta bergerak dan pemerintah juga aktif berbelanja, pertumbuhan ekonomi secara signifikan bisa di atas 6 persen,"
- Purbaya Yudhi Sadewa
Rapat KSSK sebelumnya juga mengikutsertakan paparan kondisi likuiditas dari BPI Danantara. Hasil koordinasi itu menghasilkan kesepakatan menjaga stabilitas sistem keuangan melalui pengelolaan SAL yang tidak mengganggu perbankan nasional.
Dengan kepastian penempatan hingga Juli 2027, pemerintah berharap likuiditas bank tetap kuat dan penyaluran kredit kepada sektor riil dapat berjalan lebih lancar, sehingga mendukung pemulihan dan pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...