IHSG Diprediksi Sideways Imbas Kenaikan Yield Obligasi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak sideways pada perdagangan hari ini di Bursa Efek Indonesia. Penutupan kemarin menunjukkan koreksi tipis, dan tekanan jual menjadi perhatian pelaku pasar.
Prediksi pergerakan IHSG
IHSG ditutup turun 0,06 persen pada level 6.595,78 pada penutupan sebelumnya. Analis dari Tim Phintraco Sekuritas melihat volume jual yang menekan pergerakan indeks.
"Secara teknikal, IHSG tertekan oleh volume jual. Sehingga hari ini, pergerakan IHSG diprakirakan 'sideways' (datar) di kisaran 6.550-6.650," ujar Tim Phintraco Sekuritas.
Menurut analisis teknikal mereka, bila indeks menembus level 6.550, potensi pengujian level 6.500 terbuka.
Pengaruh kenaikan yield obligasi
Tim Phintraco menyoroti kenaikan yield obligasi pemerintah di negara-negara besar sebagai faktor sentimen utama. Kenaikan yield itu mencerminkan antisipasi pelaku pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga akibat tekanan inflasi.
"Kenaikan yield untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga di tengah potensi meningkatnya kembali inflasi. Sehingga investor global cenderung memasuki mode risk-off (menghindari risiko),"
Akibatnya, aliran modal global berpotensi beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti surat utang AS.
Dampak ke pasar domestik dan mata uang
Peralihan aset tersebut bisa menekan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung memilih US-Treasury karena imbal hasil yang lebih menarik dan risiko relatif lebih rendah.
"Para investor lebih memilih investasi pada US-Treasury. Karena obligasi AS menawarkan imbal hasil lebih menarik dengan risiko yang lebih rendah,"
Tekanan ini berisiko menimbulkan pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan yield SBN, serta meningkatnya biaya modal bagi korporasi domestik. Meski begitu, beberapa faktor domestik diharapkan bisa meredam dampak luar negeri.
Asumsi makro RAPBN 2027
Pemerintah bersama Komisi XI DPR telah menyepakati asumsi dasar makro dalam RAPBN 2027. Beberapa angka kunci ditetapkan sebagai berikut.
| Asumsi | Angka |
|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi 2027 | 6,0% |
| Inflasi | 2,5% |
| Nilai tukar (Rp per USD) | Rp17.500 |
| Yield SBN 10 tahun | 6,9% |
Belanja pemerintah difokuskan untuk investasi pada infrastruktur, hilirisasi, pangan, energi, pendidikan, dan kesehatan.
- Infrastruktur
- Hilirisasi
- Pangan
- Energi
- Pendidikan
- Kesehatan
Tim Phintraco menekankan pentingnya kredibilitas fiskal pemerintah, terutama dalam pengelolaan defisit anggaran.
"Namun investor perlu mencermati kredibilitas fiskalnya. Khususnya dalam mengelola defisit anggaran,"
Investor akan terus memantau perkembangan yield global dan kebijakan domestik yang dapat mempengaruhi arus modal dan sentimen pasar.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Investasi Rp776 M: Hilirisasi Kelapa di Morowali Serap 2.900
Investasi Rp776 miliar untuk industri kelapa terintegrasi di Morowali diarahkan untuk hilirisasi, serap 2.90...
Rupiah Menguat 0,05% ke Rp17.632 pada 8 September 2026
Rupiah menguat 0,05% ke Rp17.632 pada 8 Sept 2026, dipengaruhi sentimen Selat Hormuz, data inflasi AS, dan c...
OJK: 58 Dana Pensiun Dibubarkan Sejak 2020, Aset Justru Tumbuh
OJK mencatat 58 dana pensiun dibubarkan sejak 2020, namun aset industri naik menjadi Rp1.699,99 triliun hing...
OJK Tuntaskan 187 Perkara Pidana Sektor Jasa Keuangan
OJK menyelesaikan 187 penyidikan pidana sektor jasa keuangan hingga 31 Agustus 2026, mayoritas di sektor per...
OJK Siapkan Mekanisme Harga untuk Bursa Mineral Komoditas
OJK menyiapkan dua RPOJK dan mekanisme price discovery untuk pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strateg...
OJK: Pembiayaan Modal Ventura Turun 0,46% Hingga Juli 2026
OJK mencatat pembiayaan modal ventura hingga Juli 2026 sebesar Rp16,32 triliun, terkontraksi 0,46% YoY, seme...