Banggar DPR Soroti Kesalahan Data yang Hambat Penyaluran Subsidi
JAKARTA — Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menyoroti masih besarnya inclusion error dan exclusion error dalam pendataan penerima subsidi. Dalam rapat Panja Banggar bersama pemerintah dan Bank Indonesia pada 3 September 2026, ia meminta pembenahan data desil agar subsidi benar-benar diterima masyarakat yang berhak.
Sorotan terhadap validitas data penerima
Said memperingatkan bahwa ketidaktepatan data membuat mereka yang berhak terlewat, sementara penerima yang tidak berhak tetap mendapatkan manfaat. Ia menyebut masalah itu berlanjut sejak 2017, dari DTSK menuju DTSN.
"Yang berhak menerima tidak menerima, karena dia seharusnya posisi desil tiga, tiba-tiba desilnya sembilan. Yang berhak menerima tidak menerima, yang tidak berhak menerima dia menerima. Sehingga exclusion-inclusion error-nya dari 2017, DTSK sampai sekarang DTSN, problem besar,"
Pembaruan DTSN: cakupan data dan upaya perbaikan
Pemerintah menjelaskan bahwa DTSN terus dimutakhirkan dengan memadukan berbagai sumber: data administrasi, sensus, pemutakhiran kementerian/lembaga, pemerintah daerah, ground check, serta usulan dan sanggahan masyarakat melalui kanal resmi. Data versi 3 per 10 Juli 2026 menunjukkan cakupan yang luas.
| Jenis Data | Jumlah (perkiraan) |
|---|---|
| Individu | ~290,13 juta |
| Keluarga | ~95,98 juta |
Pemerintah menyatakan akan terus memutakhirkan data untuk mencerminkan kondisi sosial terkini dan meminimalkan kesalahan masuk-keluar data penerima bantuan.
Usulan identifikasi biometrik dan tuntutan kompensasi
Said mendorong penggunaan teknologi identifikasi yang lebih akurat, termasuk biometrik seperti sidik jari atau pemindaian retina. Ia menilai cara ini bisa mempermudah verifikasi dan memastikan bantuan sampai kepada penerima yang tepat.
"Tinggal tap pakai sidik jari,"
Selain itu, Said mempertanyakan relevansi anggaran kompensasi yang diberikan ke sektor tertentu. Ia meminta klarifikasi apakah dana kompensasi masih layak dipertahankan atau bisa dialihkan untuk memperkuat subsidi bagi masyarakat berpendapatan rendah.
"Apa tidak bisa kompensasi itu dikurangi, dialihkan ke subsidi? Pertanyaan saya, apakah industri-industri kita masih layak dapat kompensasi? Kalau memang layak dan wajib, berarti ada yang perlu dievaluasi dari sisi efisiensinya,"
Dampak kebijakan dan langkah ke depan
Banggar menekankan bahwa validitas data dan evaluasi kebijakan kompensasi harus satu tujuan: memastikan subsidi memberikan manfaat maksimal kepada yang membutuhkan. Pemerintah perlu segera menunjukkan skema konkret untuk kompensasi energi dan langkah memperbaiki akurasi data.
Perbaikan ini krusial agar kebijakan subsidi tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga efisien dan berkelanjutan.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Baznas Surabaya Diminta Prioritaskan Warga Desil 1, Eri Tekankan Data
Wali Kota Eri minta Baznas Surabaya prioritaskan desil 1 dalam penyaluran ZIS berdasarkan data dan tanpa int...
Bantuan Air Arjuno: PDI Perjuangan Jatim Siapkan 20 Tangki
PDI Perjuangan Jatim siapkan 20 tangki dan 200 relawan untuk atasi krisis air pasca kebakaran Gunung Arjuno-...
Senam Tempo Disko di Banyuwangi: Sonny Jadi DJ, Ada Paket Sembako Murah
Warga Kaliboyo menggelar Senam Tempo Disko dan pasar sembako murah, 18 Okt 2026; Sonny T. Danaparamita hadir...
Batu: DPRD Dorong Perwali Wajibkan Pertunjukan Seni di Pariwisata
DPRD dorong Pemkot Batu keluarkan Perwali yang mewajibkan pertunjukan seni lokal dalam pariwisata untuk ting...
Ribuan Pelari Meriahkan Bangkalan Run 2026, Bupati Ikut 5K
Ribuan pelari memadati Bangkalan Run 2026 di Stadion Gelora Bangkalan, 18 Okt; acara dorong hidup sehat dan...
DPRD Sumenep Gelar Jalan Sehat Politik, Ribuan Warga Hadir
DPRD Sumenep menggelar Jalan Sehat Politik di Taman Bunga Potre Koneng, Minggu (18/10/2026), dihadiri ribuan...