Lokal

Perdamaian Aceh 21 Tahun: Tantangan Wujudkan Manfaat Nyata

Bagikan:
Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah memberi sambutan peringatan 21 tahun perdamaian Aceh

BANDA ACEH — Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah menegaskan tantangan utama pasca 21 tahun perdamaian bukan lagi mengakhiri konflik, melainkan memastikan semua anak Aceh merasakan manfaat perdamaian. Pernyataan itu disampaikan saat peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di Gedung Balai Meuseuraya, Banda Aceh, Sabtu (15/8).

Fokus pada manfaat sosial dan ekonomi

Menurut Fadhlullah, keberhasilan perdamaian harus diukur dari hasil nyata bagi masyarakat. Ia menyoroti empat bidang prioritas: lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, dan penguatan ekonomi masyarakat.

"Tantangan kita hari ini bukan lagi mengakhiri konflik, tetapi memastikan setiap anak Aceh merasakan manfaat perdamaian melalui lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, dan penguatan ekonomi masyarakat,"

Ia menambahkan bahwa perdamaian yang sejati harus menegakkan keadilan dan meningkatkan kesejahteraan sehingga menumbuhkan harapan bagi generasi mendatang.

"Ukuran keberhasilan perdamaian bukan hanya berakhirnya konflik, tetapi tegaknya keadilan, meningkatnya kesejahteraan, dan tumbuhnya harapan bagi generasi mendatang,"

Sejarah MoU Helsinki dan penghormatan bagi pejuang perdamaian

Fadhlullah mengingat peristiwa 15 Agustus 2005, saat penandatanganan MoU Helsinki yang mengakhiri konflik berkepanjangan di Aceh melalui jalur damai. Kesepakatan itu dinilai sebagai titik balik yang membuka peluang pemulihan dan pembangunan.

Dalam momentum peringatan, ia mengajak masyarakat untuk mengenang para syuhada dan menghormati semua pihak yang berkontribusi pada proses perdamaian, termasuk mediator, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah.

Penyerahan sertifikat tanah 600 hektare untuk pengembangan ekonomi

Dalam acara yang sama, Wagub menerima sertifikat tanah seluas 600 hektare dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Tanah itu tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Aceh.

Rencana pemanfaatan tanah tersebut adalah untuk pengembangan ekonomi eks kombatan GAM dan korban konflik, sesuai amanat MoU Helsinki. Selain itu, Fadhlullah juga menyerahkan santunan kepada anak yatim dan penghargaan kepada pemangku kebijakan yang berperan menjaga perdamaian.

Ajakan merawat perdamaian

Wagub mengakhiri sambutannya dengan menyerukan kerja nyata untuk menjaga hasil perdamaian. Ia mengingatkan pentingnya saling menghormati dan mempercayai antarwarga untuk membangun masa depan Aceh.

"Untuk itu, mari kita rawat perdamaian dengan kerja nyata, saling menghormati, dan saling mempercayai. Mari kita jadikan Aceh sebagai daerah yang damai, maju, islami, dan bermartabat,"

Langkah penyerahan sertifikat tanah dan program sosial yang disorot pada peringatan ini diposisikan sebagai upaya menerjemahkan simbol perdamaian menjadi manfaat ekonomi dan kesejahteraan yang dirasakan langsung masyarakat Aceh.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait