UMKM Medan Ubah Tenun Batak-Melayu Jadi Produk Fesyen
Reihani, pemilik UMKM "Rehani Tenun Batik Batak Melayu" di Medan, mengubah tenun tradisional Batak dan Melayu menjadi produk fesyen sejak 2014. Ia memproduksi pakaian, tas, dompet, dan suvenir yang dijual mulai Rp300 ribu hingga Rp3 juta. Pernyataan itu disampaikan dalam perbincangan pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Perjalanan usaha dan pelatihan
Usaha Reihani dimulai pada 2014. Awalnya hanya mempekerjakan satu orang — tetangganya. Kini, produksinya melibatkan 12 orang perajin yang sebagian besar ibu-ibu rumah tangga.
Untuk membangun kapasitas, Reihani dan tim mengikuti pelatihan pembuatan tenun. Selanjutnya ia belajar langsung kepada seorang guru tenun yang kini juga membantu proses produksi.
"Kita memproduksi tenun dari sehelai benang, kain, lalu diproses menjadi fesyen seperti baju, tas, dompet, dan aksesoris lainnya. Saya sudah menekuni usaha ini dari 2014,"
"Awalnya cuma satu, dari tetangga sendiri, kalau sekarang ada 12 orang yang membantu produksi,"
Proses produksi dan bahan
Proses pembuatan kain berbeda sesuai tingkat kerumitan motif. Motif sederhana memakan waktu sekitar empat hingga lima hari. Motif penuh atau detail bisa mencapai dua minggu.
Reihani memakai berbagai jenis benang untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. Bahan yang digunakan antara lain:
- Benang sutra
- Benang katun
- Benang rayon
- Benang polyester
"Kalau benang itu macam macam, ada benang sutra, katun, rayon, polyester. Kalau pakai katun dan sutra, harganya lebih tinggi dari benang rayon atau polyester,"
Penggunaan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) mempercepat pengerjaan. Menurut Reihani, dengan ATBM kain bisa selesai dalam dua hingga tiga hari. Sebaliknya, teknik tenun gedokan yang diikat di pinggang memerlukan waktu hingga dua minggu.
Produk, modifikasi, dan harga
Untuk menjawab kebutuhan fesyen modern, Reihani memodifikasi kain tradisional. Contohnya, kain polos dipadukan dengan aksen sutra agar tampilannya lebih variatif dan cocok untuk penggunaan sehari-hari.
Produk dibuat bisa sesuai pesanan motif dan model pelanggan. Rentang harga yang ditawarkan berkisar antara Rp300 ribu sampai Rp3 juta per item.
Dampak sosial dan prospek
Keterlibatan ibu-ibu rumah tangga sebagai perajin memberi dampak ekonomi lokal. Mereka mendapat pelatihan sehingga mampu mengerjakan tenun secara mandiri. Model ini menunjang pelestarian keterampilan tradisional sekaligus membuka peluang pasar fesyen lokal.
Ke depan, pengembangan motif dan promosi yang konsisten dapat meningkatkan nilai jual tenun Batak-Melayu. Skala produksi juga berpotensi bertambah jika permintaan pasar terus meningkat.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
ISF 2026 Perkuat Kolaborasi Global untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
ISF 2026 digelar 6-7 Oktober di Jakarta untuk memperkuat kolaborasi global dalam pembiayaan, teknologi, dan...
Konsistensi Pasokan Ayam Kunci Kelancaran Operasional Bisnis Kuliner
Konsistensi pasokan ayam — ukuran, potongan, kualitas, dan jadwal pengiriman — menjadi penentu efisiensi dan...
Geo Dipa: Potensi Panas Bumi Indonesia Baru 11% Tergarap
Geo Dipa: potensi panas bumi 24 GW, namun baru 11% (2,7 GW) tergarap; hambatan utama biaya tinggi, waktu pem...
BI: KLM Perkuat Pembiayaan Perumahan, Rp118 T Tersalurkan
BI menyatakan KLM mendukung pembiayaan perumahan; realisasi 1,32% setara Rp118 triliun disalurkan ke 111 ban...
DPR Soroti Usulan HIPMI Naikkan Plafon KUR Jadi Rp2 Miliar
DPR menyoroti usulan HIPMI naikkan plafon KUR menjadi Rp2 miliar untuk memperluas pembiayaan UMKM kelas mene...
IHSG Turun 3,28% Sepekan, BEI Sempurnakan Aturan Perdagangan
IHSG turun 3,28% pada 28 Sept-2 Okt 2026; BEI menyesuaikan batas harga, Auto Rejection, dan mulai terapkan s...