Wamenkeu: APBN 2027 Fokus Lindungi Masyarakat
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan APBN 2027 diarahkan untuk melindungi masyarakat, mendorong pertumbuhan, dan mendukung transformasi. Pernyataan itu disampaikan saat media briefing Kementerian Keuangan di Bogor pada 1-3 Oktober 2026. Pemerintah menyusun alokasi anggaran yang menekankan perlindungan sosial dan stabilitas harga pangan serta energi.
Prioritas utama APBN 2027
Menurut Juda, fokus APBN pada perlindungan sosial dimaksudkan untuk menahan risiko sosial akibat tekanan ekonomi. Selain itu, pemerintah menyiapkan anggaran untuk ketahanan pangan, transfer ke daerah, dan subsidi energi sebagai bagian dari strategi stabilisasi.
"Untuk melindungi masyarakat, fokus utama APBN adalah penguatan perlindungan sosial bagi masyarakat rentan dan transfer ke daerah. Selain itu, menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga pangan dan energi, pengendalian inflasi,"
Rincian alokasi anggaran
Dalam dokumen anggaran, pemerintah mengalokasikan sejumlah pos penting. Besaran anggaran tersebut menggambarkan prioritas perlindungan sosial dan stabilitas harga.
| Pos Anggaran | Alokasi (Rp) |
|---|---|
| Perlindungan sosial | Rp539,7 triliun |
| Ketahanan pangan | Rp195,3 triliun |
| Transfer ke daerah | Rp735 triliun |
| Subsidi energi | Rp261,5 triliun |
Mengapa perlindungan sosial diperkuat?
Juda menyatakan prospek ekonomi 2027 penuh tantangan. Tekanan global, khususnya risiko geopolitik, berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan inflasi. Kondisi itu memaksa pemerintah menyiapkan bantalan sosial lebih kuat sambil menjaga momentum pertumbuhan domestik.
"Dari sisi global, risiko geopolitik mendorong kenaikan harga minyak yang memicu inflasi sehingga mendorong suku bunga tinggi. Kita mengasumsikan suku bunga akan tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer) dan penuh ketidakpastian,"
Kinerja ekonomi sebagai pijakan
Juda menilai kondisi makro hingga September 2026 relatif tangguh. Beberapa indikator mendukung langkah fiskal pemerintah.
- Pertumbuhan ekonomi berada di atas 5 persen.
- Inflasi terkendali sekitar target 2,5 persen +/- 1 persen.
- Pertumbuhan kredit mencapai 13,65 persen.
- Neraca perdagangan Januari-Agustus 2026 surplus USD7,25 miliar.
- Indeks manufaktur (PMI) pada 52,4 menunjukkan ekspansi.
- Cadangan devisa tercatat USD146,5 miliar.
Juda juga menyebut kinerja APBN "on-track" dengan defisit yang masih terkendali, yakni 0,93 persen dari PDB. Kondisi ini dianggap memberi pijakan untuk menghadapi tantangan 2027.
Dengan alokasi yang menonjolkan perlindungan sosial dan stabilitas harga, pemerintah berharap mampu meredam risiko sosial dan mempertahankan laju pemulihan ekonomi ke depan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Produk Indonesia Dilirik Buyer Spanyol, Potensi Transaksi USD2,31 Juta
Atase Perdagangan RI di Madrid catat potensi transaksi USD2,31 juta dari business matching; buyer Spanyol mi...
ISF 2026 Perkuat Kolaborasi Global untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
ISF 2026 digelar 6-7 Oktober di Jakarta untuk memperkuat kolaborasi global dalam pembiayaan, teknologi, dan...
Konsistensi Pasokan Ayam Kunci Kelancaran Operasional Bisnis Kuliner
Konsistensi pasokan ayam — ukuran, potongan, kualitas, dan jadwal pengiriman — menjadi penentu efisiensi dan...
Geo Dipa: Potensi Panas Bumi Indonesia Baru 11% Tergarap
Geo Dipa: potensi panas bumi 24 GW, namun baru 11% (2,7 GW) tergarap; hambatan utama biaya tinggi, waktu pem...
BI: KLM Perkuat Pembiayaan Perumahan, Rp118 T Tersalurkan
BI menyatakan KLM mendukung pembiayaan perumahan; realisasi 1,32% setara Rp118 triliun disalurkan ke 111 ban...
DPR Soroti Usulan HIPMI Naikkan Plafon KUR Jadi Rp2 Miliar
DPR menyoroti usulan HIPMI naikkan plafon KUR menjadi Rp2 miliar untuk memperluas pembiayaan UMKM kelas mene...