Hiburan

Putri Marino: Peran Pertiwi Buka Pandangan Baru soal Perempuan

Bagikan:
Putri Marino saat konferensi pers film Empat Musim Pertiwi di XXI Epicentrum Jakarta

Putri Marino, pemeran Pertiwi dalam film Empat Musim Pertiwi, mengatakan peran itu mengubah pemahamannya tentang pengalaman perempuan. Pernyataan disampaikan dalam konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026. Ia menyebut proses pendalaman karakter melalui bacaan dan diskusi membuatnya memahami ketidakadilan dan kerentanan yang dialami perempuan dalam berbagai ruang hidup.

Pendalaman karakter dan sumber rujukan

Putri menjelaskan ia diminta membaca sejumlah referensi untuk memahami Pertiwi. Sutradara sekaligus penulis Kamila Andini memberi satu buku sebagai rujukan penting.

“Aku baca buku dan akhirnya pelan-pelan mulai mengerti tentang rasa yang dialami seorang perempuan. Ketidakadilan tanpa henti yang dialami oleh perempuan di daerah domestiknya, di lingkungan tempat dia bertumbuh, tempat dia bekerja,”

Dia menyebut buku Perempuan di Titik Nol sebagai salah satu materi yang membantunya menangkap kompleksitas emosi tokoh. Putri menambahkan dialog intens dengan sutradara menjadi bagian penting proses aktingnya.

Perbedaan antara aktor dan tokoh

Menurut Putri, karakter Pertiwi sangat berbeda dari dirinya. Ia awalnya merasa mampu mengelola banyak hal seorang diri, namun peran itu mengubah sudut pandangnya.

“Banyak sekali perbedaan antara karakter Pertiwi dan Putri lalu kompleksnya karakter Pertiwi. Aku memutuskan hal yang paling penting aku lakukan adalah berdiskusi dengan Kak Dini,”

Ia mengatakan melihat betapa kuat namun rapuhnya Pertiwi membuatnya belajar soal arti kekuatan yang tak selalu terlihat dan pentingnya dukungan sosial.

Pandangan sutradara tentang keberpihakan

Kamila Andini menambahkan tim produksi juga menggali pengalaman penyintas untuk memperkaya sudut pandang cerita. Pendekatan langsung ini memberi perspektif berbeda terhadap kasus yang diangkat film.

“Kita melihat Pertiwi tidak pernah sebenarnya, walaupun dia mampu tidak pernah membantu karakter lain tanpa dengan keputusannya Pertiwi. Pertiwi selalu atas kebutuhannya si karakter tersebut,”

Kamila menyoroti bahwa keberpihakan pada korban perempuan lebih dari sekadar kata-kata. Ia mengakui proses penerapan sikap berpihak itu sendiri masih terus dipelajarinya.

“Berpihak pada korban itu kata-kata yang mudah sekali. Tapi sebenarnya implementasinya sulit sekali, bahkan saya pun masih belajar sampai titik ini,”

Pelajaran yang diambil dan harapan

Putri menyimpulkan pengalaman memerankan Pertiwi memperkaya pemahamannya tentang kekuatan, kerentanan, dan pentingnya kebersamaan. Ia berharap film ini dapat membuka empati penonton terhadap perjuangan perempuan di berbagai lapisan masyarakat.

Diskusi antara pemeran, sutradara, dan penyintas menjadi bagian esensial yang diharapkan memperdalam narasi film dan memberi sudut pandang baru soal pengalaman perempuan.

Tiara Permata
Penulis
Tiara Permata

Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.

Berita Terkait