Teknologi

Kecemasan Ujian Bikin Blank, Taktik Soal Dibahas di IIBF 2026

Bagikan:
Pembicara membahas kecemasan ujian dan teknik napas di panggung IIBF 2026

Pakar dan pelajar mengupas dampak kecemasan ujian yang bisa melumpuhkan kemampuan berpikir pada acara Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis, 1 Oktober 2026. Pembahasan menyorot reaksi biologis tubuh, strategi olah napas, dan taktik teknis menghadapi soal untuk mencegah kehilangan konsentrasi saat ujian.

Reaksi tubuh terhadap ketakutan akademis

Psikolog anak dan remaja Wikan Putri Larasati menjelaskan bahwa respons sistem saraf terhadap ketakutan akademis mirip dengan rasa takut menghadapi bahaya fisik. Reaksi ini memicu gejala seperti jantung berdebar dan keringat dingin, yang pada gilirannya menurunkan pasokan oksigen ke otak bagian rasional.

"Nah, yang kita harus pahami Teman-teman, badan kita itu atau otak kita enggak bisa membedakan antara rasa takut dikejar singa dengan rasa takut menghadapi soal. Reaksi tubuh yang kita alami itu kurang lebih sama gitu ya," kata Wikan.

Wikan menekankan bahwa saat panik, akses ke prefrontal cortex—bagian otak untuk berpikir rasional—menurun drastis. Kondisi ini membuat siswa sulit melakukan perhitungan matematis sederhana pada lembar ujian.

Teknik napas sebagai intervensi cepat

Sebagai penanggulangan cepat, Wikan memperkenalkan teknik pernapasan 4-7-8 untuk menenangkan tubuh dan mengirim sinyal keamanan ke otak. Teknik ini dipraktikkan bersama ratusan pelajar di depan panggung utama.

"Caranya gimana? Balik lagi, napas 4-7-8. Itu membantu kita ngasih sinyal ke otak bahwa enggak kok, ini situasi yang aman ya, supaya kita bisa kembali tenang tubuhnya, baru kita bisa kembali mengakses otak berpikir gitu ya, prefrontal cortex kita baru bisa bekerja lagi," ujar Wikan.

Pengalaman pelajar: istirahat penting saat jenuh

Farellevi Al-Fasahbari, mahasiswa ITB yang meraih nilai TKA Matematika tertinggi 2025, membagikan pengalaman memaksakan belajar saat lelah. Ia mengatakan paksaan semacam itu justru memicu kejenuhan dan runtuhnya kepercayaan diri.

"Jadi ketika ngerjain soal pasti ya enggak menutup kemungkinan kita bakal buntu atau burnout lah gitu. Jadi ketika udah mentok enggak bisa, ya udah tutup bukunya, lakukan apa pun yang kalian suka gitu," ucap Farellevi.

Levi juga mengakui soal-soal berat yang ditemukan mendekati hari H sering memicu kecemasan dan rasa takut gagal.

Taktik soal dan saran praktis guru

Iman Santoso, Ketua MGMP Matematika, menyarankan taktik teknis saat mengerjakan soal pilihan ganda dan strategi persiapan di hari terakhir. Ia mengingatkan bahwa beberapa tes saat ini tidak lagi memberlakukan nilai minus, sehingga peserta sebaiknya mengisi jawaban daripada meninggalkan kosong.

"Nah, untuk cara menjawabnya, jadi karena TKA ini tidak ada nilai minus, kalau kalian dulu mungkin Bapak Ibu kalian lah, kalau tes dulu itu kan ada nilai minusnya. Nah, sekarang itu enggak ada. Jadi sebaiknya pada saat kalian menemukan tes semacam itu, ya isi aja," ucap Iman.

Iman merekomendasikan agar H-1 bukan digunakan untuk mencoba soal-soal sangat sulit, melainkan untuk mengingat kembali materi dan mengulang soal yang pernah dikerjakan.

Ringkasan langkah praktis

  • Gunakan teknik napas 4-7-8 saat panik untuk menenangkan sistem saraf.
  • Jika mengalami kebuntuan, istirahat singkat atau hentikan sementara pengerjaan soal berat.
  • Pada tes tanpa nilai minus, isi jawaban pilihan ganda daripada membiarkannya kosong.
  • Di H-1, fokuskan pada pengulangan materi, bukan mengerjakan soal baru yang sangat sulit.

Acara di IIBF 2026 memperlihatkan sinergi antara pengetahuan psikologis, pengalaman siswa berprestasi, dan praktik pengajaran. Langkah-langkah sederhana seperti teknik napas dan taktik pengerjaan soal dipandang efektif menurunkan kecemasan dan memulihkan fungsi berpikir rasional peserta ujian.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait