Lokal

Kenduri Diraja Sultan Deli XIV Digelar Khidmat di Medan

Bagikan:
Masyarakat Melayu Deli mengikuti Kenduri Diraja Sultan Deli di Medan dalam suasana khidmat

Medan, Kenduri Diraja Sultan Deli XIV kembali digelar dalam suasana khidmat pada Sabtu (29/8). Acara yang berlangsung di Kota Medan ini bukan sekadar seremoni, melainkan ritual tradisi yang menjaga identitas budaya Melayu Deli dan menggabungkan nilai agama, adat, serta kebersamaan masyarakat.

Rangkaian ritual dan makna

Pelaksanaan Kenduri Diraja meliputi pembacaan Yasin, zikir, serta Ratib Al-Haddad. Rangkaian ini menjadi inti acara dan memperlihatkan hubungan kuat antara praktik keagamaan dan adat istiadat lokal.

  • Yasin
  • Zikir
  • Ratib Al-Haddad

Kegiatan itu menunjukkan bahwa tradisi turun-temurun masih dipraktikkan sebagai wujud pelestarian warisan budaya.

Peran pemerintah dan pesan tokoh budaya

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, Ahmad Barli Mulia Nasution, menegaskan pentingnya Kenduri Diraja untuk kesinambungan identitas budaya. Pemerintah kota hadir sebagai bentuk dukungan untuk menjaga adat dan tradisi lokal.

"Kenduri Diraja bukan sekadar sebuah kegiatan seremonial. Ini merupakan ritual khusus yang telah dilaksanakan dari tahun ke tahun dan menjadi bagian daripada tradisi masyarakat Melayu Deli di Kota Medan,"

Menurutnya, kebudayaan terlihat tidak hanya lewat kesenian dan pakaian adat, tetapi juga melalui ritual yang rutin dipraktikkan masyarakat.

Pelestarian dan keterlibatan generasi muda

Ahmad Barli menekankan keterlibatan generasi muda agar akar sejarah dan kebudayaan tidak hilang seiring modernisasi. Ia mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman.

"Generasi muda harus mengetahui bahwa mereka memiliki akar sejarah dan kebudayaan. Jangan sampai perkembangan zaman membuat mereka mengenal budaya dari luar, tetapi justru lupa terhadap warisan yang ada di lingkungannya sendiri,"

Ia menambahkan bahwa bentuk-bentuk tradisi dapat berkembang, namun nilai-nilai luhur yang menjadi dasarnya harus tetap dijaga.

Kenduri sebagai ingatan kolektif

Kenduri Diraja berfungsi sebagai ruang silaturahmi antara tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah, dan generasi muda. Acara ini juga dianggap sebagai bentuk ingatan kolektif yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Penutup: tradisi dan modernitas berjalan bersama

Di tengah perkembangan Medan sebagai kota modern, Kenduri Diraja memperlihatkan bahwa tradisi dan identitas budaya masih memiliki ruang untuk tumbuh dan diwariskan. Selama ritual ini terus dilaksanakan dan nilai-nilainya dipertahankan, maka mata rantai kebudayaan Melayu Deli di Kota Medan akan tetap terjaga.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait