Empat Terdakwa Disidang Kasus Jual Beli Ekstasi di Medan
Medan — Empat terdakwa, Wahyu Andika, Tasya Zahra, Stevi Novalina Marbun, dan Zul Ilham, sedang disidang di Pengadilan Negeri Medan atas dugaan jual beli narkotika jenis ekstasi. Perkara ini bermula dari penyelidikan polisi dan pengungkapan transaksi pada 10 Maret 2026. Dakwaan dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum pada Rabu (12/8).
Kronologi penangkapan
Jaksa menjelaskan penyelidikan berawal dari informasi adanya penjualan ekstasi. Pada 10 Maret 2026 sekitar pukul 22.00 WIB, seorang saksi yang menyamar sebagai pembeli, Dani Dizcky M, menghubungi Wahyu untuk memesan 10 butir ekstasi.
"Wahyu Andika mengatakan untuk mencari stoknya dulu dan akan dikabari lagi,"
kata Jaksa Penuntut Umum Elvina Elizabeth saat membacakan dakwaan.
Selanjutnya, Wahyu menghubungi pacarnya, Tasya, yang kemudian berkomunikasi dengan Stevi untuk menanyakan ketersediaan barang. Stevi menyebut harga ekstasi Rp180 ribu per butir dan mengajak Tasya membeli bersama. Pertemuan disepakati di Jalan Mangkubumi, dekat Diskotik New Zone.
Peran masing-masing terdakwa
Menurut jaksa, Stevi mengajak suaminya, Zul Ilham, datang ke lokasi menggunakan sepeda motor. Saat bertemu, Stevi mengantar Tasya dan Wahyu menuju Jalan S Parman untuk mengambil barang. Di depan sebuah gang, Wahyu menyerahkan uang Rp1,8 juta kepada Stevi.
Stevi masuk mengambil ekstasi lalu menyerahkannya kepada Wahyu. Jaksa menegaskan bahwa Wahyu memberikan upah Rp80 ribu kepada Stevi setelah transaksi.
Penangkapan oleh petugas menyamar
Wahyu dan Tasya kembali ke kos di Jalan Budi Kemasyarakatan. Wahyu lalu menawarkan ekstasi kepada calon pembeli seharga Rp220 ribu per butir. Petugas yang menyamar datang ke lokasi penyerahan.
"Saat Wahyu menyerahkan 10 butir ekstasi menggunakan tangan kirinya, pembeli tersebut mengaku sebagai polisi dan langsung menangkap Wahyu,"
jelas jaksa.
Dari tangan Wahyu ditemukan 10 butir ekstasi. Ia mengaku memperoleh barang itu bersama Tasya dari Stevi. Polisi kemudian menggeledah kos dan menemukan telepon seluler milik Tasya yang diduga dipakai untuk komunikasi pemesanan.
Tim kepolisian kemudian berhasil menangkap Stevi dan Zul di kawasan Jalan Kesawan Medan.
Dakwaan dan proses hukum
Keempat terdakwa didakwa melakukan pelanggaran menurut Pasal 114 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto Pasal 20 huruf C UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Setelah pembacaan dakwaan, sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi dari pihak kepolisian.
Implikasi dan langkah selanjutnya
Kasus ini menunjukkan pola peredaran narkotika yang memanfaatkan transaksi tatap muka dan peran jaringan keluarga/pacar. Persidangan akan berlanjut untuk menguji alat bukti dan keterangan saksi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
ASPERA Mini Studio: Transformasi Digital Pembelajaran Speaking SAS
ASPERA Mini Studio hadir sebagai sistem pembelajaran speaking digital di SAS, memadukan studio, multimedia,...
Subulussalam Beringin Menuju Desa Definitif, BIG Lakukan Verifikasi Batas
Desa Persiapan Subulussalam Beringin menjalani verifikasi batas wilayah oleh BIG setelah peroleh kode regist...
Ketua DPRK Banda Aceh Soroti Lonjakan Perceraian dan Kekerasan Anak
Ketua DPRK Banda Aceh kunjungi Mahkamah Syar'iyah, soroti lebih dari 300 perkara perceraian Jan–Sep 2026 dan...
DP3APM Copot 5 Kepling, 2 Lainnya Tunggu Keputusan Ombudsman
DP3APM Tebingtinggi mencopot 5 kepling pada 1 Oktober; dua lainnya menunggu keputusan Ombudsman setelah meng...
Eksekutor Pembakar Mobil Sukur Rambe Ditahan, Polisi Diminta Ungkap Dalang
Tersangka DH ditahan usai mengaku membakar mobil Sukur Rambe atas perintah RPJ; polisi didesak menuntaskan p...
LSM Tuding Gudang di Medan Labuhan Menimbun Solar Subsidi Ilegal
LSM Social Justice laporkan dugaan penimbunan solar subsidi di gudang Medan Labuhan; minta polisi segera ber...