Nasional

Pemerintah Proyeksi Kebutuhan Investasi Migas dan CCS Meningkat

Bagikan:
Ilustrasi investasi sektor energi dan teknologi CCS di Indonesia

Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi sektor energi, termasuk migas dan carbon capture and storage (CCS), akan meningkat signifikan seiring percepatan transisi dan upaya ketahanan energi nasional. Pernyataan ini disampaikan Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, Dadan Kusdiana, pada Kamis, 21 Mei 2026.

Garis besar kebijakan energi nasional

Dadan mengatakan kebijakan energi nasional yang diumumkan Presiden pada September 2025 berfokus pada tiga pilar: ketahanan energi, transisi energi, dan dekarbonisasi. Pemerintah akan menjalankan strategi paralel, memanfaatkan energi fosil sambil mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan.

"Pertama adalah bagaimana menjamin ketahanan energi... Kedua adalah bagaimana menjaga transisi energi... dan ketiga... adalah dekarbonisasi," ujar Dadan Kusdiana.

Saat ini pemerintah menyusun Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sebagai peta jalan yang akan menjadi acuan implementasi program transisi energi lintas sektor.

Proyeksi bauran energi dan kebutuhan migas

Pemerintah memproyeksikan porsi energi terbarukan mencapai sekitar 70 persen dari bauran energi primer pada 2060, dengan gas sekitar 20 persen dan minyak sekitar 5 persen. Meski demikian, kebutuhan minyak dan gas diperkirakan tetap tinggi selama masa transisi.

Berdasarkan data IEA dan IRENA, kebutuhan minyak diperkirakan mencapai sekitar 2 juta barel per hari pada 2030 dan turun menjadi sekitar 1 juta barel per hari pada 2060. Hal ini menandakan kebutuhan investasi hulu migas akan tetap besar dalam beberapa dekade mendatang.

Skala investasi dan proyek utama

Realisasi investasi sektor energi pada tahun lalu mencapai US$15 miliar. Pemerintah memproyeksikan nilai investasi meningkat pada 2027 dan 2028, didorong oleh proyek-proyek besar seperti ENI, Masela, dan kemungkinan proyek Andaman.

"Kita akan memiliki banyak proyek besar... semua itu membutuhkan investasi yang signifikan," kata Dadan Kusdiana.

CCS dan kerja sama internasional

Pemerintah juga mendorong investasi di bidang CCS sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi. Dadan menyebut Indonesia memiliki potensi besar sebagai lokasi penyimpanan karbon regional dan telah menjalin kerja sama dengan beberapa negara.

"Kami memiliki kerja sama erat dengan Singapura, termasuk nota kesepahaman yang sangat spesifik mengenai CCS... bulan lalu, kami juga melakukan hal yang sama dengan Korea dan Jepang," ujar Dadan.

Dari sisi pembiayaan, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) menyatakan kesiapan mendukung proyek energi di Indonesia, baik yang berbasis bahan bakar fosil maupun energi terbarukan.

"Kebijakan Jepang adalah berupaya mencapai netral karbon dengan cara yang realistis dan pragmatis... kami ingin mendukung proyek-proyek berbasis bahan bakar fosil maupun energi terbarukan," ujar Tatsushi Amano dari JBIC.

Respons pelaku usaha dan implikasi

Perusahaan energi internasional seperti ENI menyatakan dukungan terhadap iklim usaha yang kondusif, yang akan mendorong investasi lebih besar dan memperkuat ketahanan energi nasional.

"Kami merasa memiliki kontribusi besar dalam upaya ketahanan energi... dapat mendukung negara dan pemerintah untuk mencapai ketahanan energi," kata Ciro Pagano dari ENI.

Dengan adanya RUEN dan peningkatan kerja sama internasional, prospek investasi energi di Indonesia diperkirakan bertumbuh. Namun realisasi investasi besar bergantung pada kepastian kebijakan, mekanisme pembiayaan, dan kelayakan proyek hulu serta pengembangan CCS.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait