Nasional

Prabowo Kumpulkan Ekonom Senior Bahas Antisipasi Krisis Ekonomi

Bagikan:
Presiden Prabowo memimpin pertemuan dengan ekonom senior di Istana Merdeka

Presiden Prabowo Subianto mengundang ekonom senior ke Istana Merdeka, Jakarta, Jumat 22 Mei 2026 untuk membahas pengalaman menghadapi tekanan ekonomi dan langkah antisipasi terhadap dinamika global saat ini.

Pertemuan dan tokoh yang hadir

Rapat berlangsung di Istana Kepresidenan dan dihadiri oleh sejumlah tokoh ekonomi senior serta pejabat kabinet. Pertemuan bertujuan mengumpulkan masukan historis dan kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi.

  • Burhanuddin Abdullah (mantan Gubernur Bank Indonesia 2003–2008)
  • Lukita Dinarsyah Tuwo (mantan Menko Perekonomian era SBY)
  • Paskah Suzetta (mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional)
  • Pejabat kabinet: Airlangga Hartarto, Rosan Roeslani, Prasetyo Hadi, Teddy Indra Wijaya, dan Purbaya

Catatan sejarah krisis dan pelajaran

Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, para ekonom menyampaikan pengalaman menghadapi berbagai guncangan masa lalu. Catatan itu mencakup krisis 1998, lonjakan harga minyak dunia, dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

"Dalam pertemuan tersebut mereka menyampaikan beberapa catatan yang terjadi. Mereka mengatakan kalau di masa lalu inflasi kita di periode sekitar 17 persen," ujar Airlangga usai pertemuan.

Airlangga juga mengingatkan pada tekanan akibat kenaikan harga minyak. Ia menyebut harga minyak pernah menyentuh 140 dolar AS per barel, yang memicu lonjakan inflasi hingga 27 persen pada periode tertentu.

"Pernah terjadi perubahan nilai kurs akibat krisis minyak di tahun 2005. Di mana harga minyak bisa naik sampai 140 dolar, ada pada waktu itu penyesuaian harga sehingga inflasinya bisa naik ke 27 persen," kata Airlangga.

Kondisi makro saat ini

Meski demikian, kata Airlangga, kondisi ekonomi Indonesia saat ini relatif lebih baik dengan fundamental yang kuat. Pertumbuhan pada kuartal I 2026 tercatat 5,61 persen, sementara depresiasi rupiah diperkirakan sekitar 5 persen.

"Kalau kita cek dengan konteks hari ini relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen. Jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya," ujar Airlangga.

Instruksi pemerintah dan tindak lanjut

Dari pertemuan, pemerintah menyatakan memperoleh masukan untuk mengantisipasi tekanan ekonomi dan menjaga stabilitas sektor keuangan. Presiden meminta jajaran kementerian ekonomi, khususnya Menteri Keuangan, untuk memonitor regulasi dan memperkuat ketahanan sektor keuangan.

  • Menjaga prinsip kehati-hatian perbankan
  • Mengkaji penguatan permodalan perbankan nasional
  • Memantau regulasi untuk memperkuat stabilitas keuangan

"Sharing pengetahuan bagaimana waktu mengalami krisis 2007–2008 dan sebelum-sebelumnya. Itu saja kita pelajari, masukan dari mereka apa, saya sudah catat, saya diperintahkan untuk mempelajari," kata Purbaya.

"Ada umum sekali tadi yang saya usulkan. Tapi bapak Presiden meminta Menteri Keuangan tadi untuk mencoba memikirkan hal-hal yang saya pikirkan itu ke depan," ujar Burhanuddin Abdullah.

Pertemuan menegaskan langkah pencegahan dan kajian kebijakan sebagai prioritas. Pemerintah akan terus menelaah masukan para ekonom senior untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait