Nuanu Dorong Pembangunan Berkelanjutan di Bali
Nuanu Creative City membuka Nuanu Park dan menempatkan diri sebagai model pembangunan alternatif di Bali yang menekankan ruang publik, keterjangkauan pejalan kaki, dan keberlanjutan jangka panjang. Proyek seluas 44 hektare ini baru saja meresmikan taman seluas 1,6 hektare di pesisir barat daya Bali, sambil menanggapi kekhawatiran atas kemacetan dan overtourism.
Konsep dan tujuan Nuanu
Pengelola menyatakan proyek ini dirancang untuk mengembalikan keseimbangan antara pembangunan dan identitas budaya pulau. Nuanu menekankan bahwa pertumbuhan harus mempertimbangkan infrastruktur, ekologi, serta kehidupan komunitas lokal.
"Saya pikir salah satu kesalahan terbesar adalah ketika pembangunan hanya fokus pada nilai komersial jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang pada komunitas, infrastruktur, budaya, dan lingkungan," kata Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City.
Ruang publik, akses pejalan, dan infrastruktur
Pada fase pertama (2020–2025), Nuanu mengklaim memprioritaskan infrastruktur publik seperti jalan, akses pejalan kaki, sistem drainase, dan ruang komunal. Sekitar 70% dari lahan dialokasikan untuk ruang hijau, dan Nuanu Park dirancang sebagai area publik terbuka yang dapat digunakan tanpa aktivitas komersial.
Taman tersebut dilengkapi fasilitas untuk berbagai kegiatan, antara lain:
- Jalur pejalan kaki
- Area bermain anak
- Ruang workshop dan program budaya
- Ruang pertemuan komunitas
"Daya tarik Bali selalu datang dari keseimbangan antara alam, spiritualitas, kreativitas, budaya, dan kehidupan komunitas," ujar Kroll. "Jika keseimbangan itu hilang, Bali berisiko menjadi destinasi global yang padat tanpa identitas."
Dana sosial dan dampak komunitas
Nuanu juga mengintegrasikan program sosial melalui Nuanu Social Fund, yang mendapatkan kontribusi dari pelaku usaha di dalam kawasan. Menurut perusahaan, pada 2025 dana ini menyalurkan lebih dari Rp 5 miliar.
Sebesar 62,9% dari distribusi tersebut dialokasikan untuk inisiatif seni dan budaya, menjangkau sekitar 14.000 penerima manfaat.
"Dalam banyak kasus, CSR masih dipandang terpisah dari bisnis inti. Di Nuanu, kami berupaya mengintegrasikan nilai-nilai itu langsung ke ekosistem dan praktik operasional harian," kata Ida Ayu Astari Prada.
Tantangan lebih luas bagi Bali
Meski Nuanu menawarkan pendekatan berbeda, perdebatan tentang masa depan Bali tetap meluas. Tekanan pada infrastruktur, pengelolaan sampah, sistem air, dan keterbatasan ruang publik menjadi sorotan seiring pertumbuhan pariwisata di daerah seperti Canggu dan Uluwatu.
Kroll menegaskan masalahnya bukan apakah Bali harus berkembang, melainkan bagaimana cara berkembang agar tetap regeneratif dan menghormati budaya setempat.
Jika model pembangunan berorientasi jangka pendek terus dominan, risiko yang disebutkan dapat mengikis identitas dan kualitas hidup warga Bali di masa depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Dua Anak Muda Bali Juara Putra Putri Batik Nusantara 2026
Kadek Wijaya dan Putu Paramitha terpilih Grand Winner PPBN 2026 di Cibubur; diharapkan menguatkan peran gene...
Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara 2026 Dibuka, Pendaftaran 28 Sep–10 Okt
Pendaftaran Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara 2026 dibuka 28 Sep–10 Okt untuk siswa kelas V–VI SD/MI; 36 s...
Kemenkes: Deteksi H3N2 'Superflu' Lebih Rendah pada 2026
Kemenkes: meski influenza meningkat, deteksi H3N2 subclade K ('superflu') lebih rendah pada 2026 dibanding 2...
Merah Putih Bertanya: 750 Aktor Reenaksi Insiden Hotel Yamato
750 aktor menampilkan kembali insiden Hotel Yamato pada Sabtu, merekonstruksi penurunan dan pengoyakan bende...
Kementerian Kebudayaan Gelar Pentas KILA 2026 untuk Bangkitkan Lagu Anak
Kementerian Kebudayaan menggelar Pentas KILA 2026 di Jakarta untuk menghidupkan kembali lagu anak dan mengem...
Perpustakaan Danantara Resmi Dibuka di Museum Nasional
Perpustakaan Danantara resmi dibuka 25 September 2026 di Museum Nasional; koleksi langka bisa dibaca gratis...