BP Tapera Perluas Akses KPR untuk Pekerja Informal
BP Tapera memperluas akses Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi bagi pekerja sektor informal melalui program FLPP. Pengumuman itu disampaikan Direktur Pembiayaan Perumahan dan Layanan Digital BP Tapera, Alfian Arif, pada Diskusi Media di Jakarta Selatan, Jumat, 22 Mei 2026. Langkah ini bertujuan memberi kesempatan setara bagi masyarakat berpenghasilan tidak tetap memperoleh hunian layak.
Kuota KPR untuk pekerja informal meningkat
Alfian menyatakan kuota bagi pekerja non-fixed income dinaikkan secara bertahap. Saat ini, perbankan diwajibkan menyalurkan minimal 15 persen kuota KPR untuk kelompok ini. Kebijakan itu dimaksudkan agar penerima subsidi tidak hanya terbatas pada ASN, TNI/Polri, atau penerima berpenghasilan tetap.
“Satu langkah konkret kami, kami membuka kewajiban kepada bank penyalur untuk menyalurkan target non-fixed income. Dari mulai 10 persen, 12 persen, hari ini 15 persen,”
Siapa yang masuk kategori penerima?
BP Tapera menjelaskan cakupan penerima program diperluas agar mencakup berbagai bentuk pekerjaan informal. Kelompok yang disasar antara lain:
- pekerja lepas dan freelancer
- pengemudi ojek daring (ojol)
- pelaku usaha mandiri dan usaha mikro
Skema penyaluran dan hasil awal
Salah satu insentif yang ditawarkan adalah skema uang muka nol persen untuk unit rumah subsidi. Selain itu, BP Tapera menggandeng perbankan dan pengembang untuk mempercepat penyaluran FLPP bagi pekerja informal.
“Dan ternyata dari 43 bank, 92 persen bank penyalur menyalurkan hari ini non-fixed income. Tanpa terkecuali,”
Menurut Alfian, angka tersebut menunjukkan respons positif dari perbankan terhadap kebijakan inklusif BP Tapera.
Rencana kenaikan kuota dan dampak pada backlog
BP Tapera berencana meningkatkan porsi penyaluran bagi pekerja informal pada tahun mendatang. Alfian menyebut target kenaikan menjadi 20 persen sebagai upaya menekan backlog perumahan nasional.
“Kebijakan 15 persen nanti akan ditingkatkan. Tahun depan jadi 20 persen,”
Dengan kenaikan kuota dan kerja sama lintas sektor, BP Tapera berharap akses pembiayaan rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan tidak tetap semakin luas. Ini diharapkan membantu menurunkan defisit hunian dan memberi peluang kepemilikan rumah bagi kelompok yang selama ini kurang terlayani.
Berita Terkait
IHSG Ditutup Menguat 1,1% ke 6.162 pada 22 Mei 2026
IHSG ditutup menguat 1,1% ke 6.162,04 pada 22 Mei 2026; nilai transaksi Rp20,01 triliun dan sentimen global...
UMKM Kunci Pertumbuhan Ekonomi 2027, Ekonom UI Paparkan RAPBN
Ekonom UI Telisa Aulia Valianti sebut UMKM kunci pertumbuhan 2027; proyeksi ekonomi 5,8–6,5% dan pendapatan...
IHSG Menguat 0,30% pada Jeda Siang, Tekanan Eksternal dan MSCI Jadi Perhatian
IHSG menguat 0,30% ke 6.113,44 pada jeda siang 22 Mei 2026, namun tekanan dari sentimen global dan rebalanci...
Rupiah Melemah ke Rp17.700, Pasar Tunggu Data BI
Rupiah melemah ke sekitar Rp17.700 per dolar karena pasar menunggu data neraca transaksi berjalan BI dan tek...
Cek Harga Emas Perhiasan Hari Ini: 24K–12K (22 Mei 2026)
Daftar harga emas perhiasan 24K–12K per Jumat, 22 Mei 2026: beberapa gerai turun, Raja Emas stabil, Laku Ema...
OJK: Transaksi Bursa Karbon Indonesia Masih Rendah
OJK menyatakan transaksi IDXCarbon hanya Rp93,75 miliar; OJK dorong revisi POJK dan pembentukan SRUK untuk p...