IHSG Ditutup Menguat 1,1% ke 6.162 pada 22 Mei 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,1 persen ke posisi 6.162,04 pada penutupan perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, di Bursa Efek Indonesia. Kenaikan ini tercatat setelah IHSG sempat dibuka melemah dan bergerak fluktuatif sepanjang hari. Sentimen positif dari pasar global dan kondisi domestik yang masih bergejolak menjadi faktor penggerak pergerakan indeks.
Pergerakan pasar dan data perdagangan
IHSG sempat menyentuh posisi terendah di 5.966,86 sebelum berbalik menguat pada akhir sesi. Level pembukaan hari ini berada di 6.065,63. Secara sektoral, pergerakan didominasi oleh jumlah saham yang menguat dibanding yang melemah.
Data perdagangan mencatat nilai transaksi sebesar Rp20,01 triliun. Volume perdagangan mencapai 39,46 miliar lembar saham dengan frekuensi lebih dari 1,96 juta kali transaksi. Secara total, tercatat 449 saham menguat, 251 saham melemah, dan 118 saham stagnan.
Sentimen global dan regional
Penguatan IHSG diwarnai sentimen positif dari bursa Asia yang mengikuti reli Wall Street. Harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran disebut ikut meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Iran mengatakan proposal terbaru AS telah membantu mempersempit perbedaan antara kedua pihak. Ini memicu harapan untuk kesepakatan perdamaian dan meredakan kekhawatiran atas gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
— Tim Pilarmas Investindo Sekuritas
Dampak kebijakan domestik
Dari sisi domestik, pergerakan IHSG tetap terpengaruh oleh kombinasi sentimen global dan isu dalam negeri. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi perhatian pelaku pasar, bersama polemik rencana sentralisasi ekspor.
Pemerintah melalui pejabat terkait, yakni Danantara, menyatakan kebijakan satu pintu untuk ekspor tidak akan mengganggu kontrak eksportir swasta yang sudah berjalan. Selain itu, diklaim ada ruang dialog antara pemerintah dan pelaku industri selama masa transisi kebijakan.
Sementara itu, lembaga pemeringkat global seperti Moody’s dan S&P memperingatkan bahwa kebijakan tata kelola ekspor baru berpotensi menimbulkan distorsi pasar dan mengganggu kinerja ekspor nasional, sehingga menjadi risiko yang harus diwaspadai investor.
Prospek dan implikasi
Penguatan hari ini menunjukkan respons pasar terhadap sentimen eksternal yang mereda. Namun volatilitas masih mungkin berlanjut jika isu kebijakan domestik dan tekanan nilai tukar belum teratasi. Pelaku pasar diperkirakan akan memantau perkembangan negosiasi internasional dan pernyataan kebijakan pemerintah dalam beberapa pekan ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...
IHSG Diprakirakan Konsolidasi Menjelang Data Inflasi 1 Okt 2026
Pelaku pasar menunggu data inflasi BPS (1 Okt 2026); IHSG diperkirakan konsolidasi di kisaran 6.000-6.200 se...