Nasional

DPR Minta Bulog Jangan Tahan Stok Beras, Risikonya Kenaikan Harga

Bagikan:
Gudang penyimpanan beras Bulog dengan tumpukan karung beras

Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, mengingatkan Perum Bulog agar tidak menahan stok beras dalam jumlah besar. Ia menilai penahanan stok berisiko memicu kenaikan harga di pasar dan menimbulkan masalah data administratif. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Kamis, 14 Mei 2026.

Kekhawatiran soal efek penahanan stok

Firman mengatakan, saat stok beras tersimpan lama di gudang dan tidak dilepas ke pasar, pedagang menilai suplai terbatas. Akibatnya harga di pasar berpotensi naik. Ia menekankan bahwa peningkatan kebutuhan beras oleh program pemerintah dan permintaan umum bisa mempersempit pasokan masyarakat.

"Kalau stok ditahan terlalu lama, pasar menganggap suplai terbatas, akibatnya harga bisa naik," ujar Firman.

Kerugian Bulog bila stok rusak

Anggota Baleg DPR ini juga mengingatkan risiko kerugian bagi Bulog bila stok mengalami kerusakan. Kerugian muncul dari selisih harga jual dengan biaya penyimpanan hingga potensi pemusnahan akibat jamur. Kondisi ini makin merugikan bila beras yang dilepas ke pasar kualitasnya menurun.

Indikasi manipulasi data stok

Firman mengungkap indikasi ketidaksesuaian antara data administrasi dan fisik stok di gudang. Ia menduga praktik itu muncul karena tekanan pencapaian target ke pimpinan cabang. Menurutnya ada praktik penerbitan purchase order meski barang belum benar-benar masuk gudang.

"Secara administratif target terlihat tercapai, namun stok fisik di lapangan tidak sesuai data, ini namanya manipulasi data, berbahaya," kata Firman.

Politikus Golkar ini menyebut menemukan satu cabang yang diduga memanipulasi data stok hingga mencapai 4.500–5.000 ton. Ia khawatir bila praktik serupa tersebar, angka stok nasional 5,3 juta ton menjadi tidak relevan.

Tanggapan Bulog dan kondisi stok nasional

Sebelumnya, Dirut Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani memastikan ketersediaan stok beras nasional aman. Rizal menyatakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) telah menembus lebih dari 5 juta ton. Pernyataan itu disampaikan saat menerima kunjungan Komisi IV DPR RI di Kompleks Pergudangan Batu Cermin, Labuan Bajo, Sabtu 25 April 2026.

"Ketersediaan stok beras yang mencapai lebih dari 5 juta ton ini menjadi bukti komitmen BULOG dalam menjaga stabilitas pangan nasional," ujar Rizal.

Langkah audit dan prospek

Firman meminta jajaran pusat Bulog dan Badan Pangan Nasional melakukan audit investigatif melalui Satuan Pengawasan Internal (SPI). Pemeriksaan berkala perlu memastikan kesesuaian antara data fisik dan administratif stok. Jika temuan manipulasi dikonfirmasi, langkah perbaikan harus diambil cepat untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Pengawasan lebih ketat dan transparansi data menjadi kunci agar stok yang tercatat benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan. Hal ini penting untuk mencegah gejolak harga dan memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait

Komentar (0)

Komentar akan ditinjau sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!