BRIN Kembangkan Implan Tulang Titanium Antibakteri Kurangi Impor
Jakarta, 13 Mei 2026 — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan implan pelat klavikula berbasis paduan titanium yang biokompatibel dan bersifat antibakteri. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, menekan impor, dan menurunkan biaya perawatan pascaoperasi.
Kenapa ini penting
Permintaan implan tulang di Indonesia diperkirakan mencapai 80.000–100.000 keping per tahun, namun lebih dari 90 persen masih bergantung pada produk impor. Faktor utama peningkatan kebutuhan adalah tingginya angka cedera akibat kecelakaan lalu lintas, terutama pada kelompok usia muda.
Inovasi material: paduan beta low-cost
BRIN mengembangkan paduan titanium tipe beta low-cost sebagai alternatif pengganti stainless steel 316L dan Ti6Al4V. Paduan ini ditingkatkan dengan penambahan beberapa unsur untuk memperoleh sifat mekanik dan biologis yang lebih baik.
- Molibdenum (Mo)
- Niobium (Nb)
- Besi (Fe)
- Tembaga (Cu)
Penambahan unsur tembaga (Cu) dinilai krusial karena memberikan sifat antibakteri melalui aktivitas oligodinamik yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan implan.
"Pengembangan material titanium untuk alat kesehatan bukan hanya soal inovasi material, tetapi juga upaya membangun kemandirian teknologi nasional agar kebutuhan implan medis dapat dipenuhi dari dalam negeri dengan harga yang lebih terjangkau,"
Uji karakterisasi dan biokompatibilitas
Tim peneliti melakukan rangkaian pengujian, mulai dari struktur mikro, sifat mekanik, dan ketahanan korosi dalam simulated body fluid (SBF). Selain itu, dilakukan pula uji biokompatibilitas dan aktivitas antibakteri untuk memastikan keamanan dan efektivitas material.
"Material yang dikembangkan diharapkan memiliki ketahanan mekanik dan korosi yang baik, mudah dibentuk, aman bagi tubuh, serta memiliki kemampuan antibakteri untuk mengurangi risiko infeksi pascaoperasi,"
Desain sesuai anatomi dan kolaborasi industri
Selain material, riset mencakup desain clavicle plate yang ergonomis dan disesuaikan dengan anatomi masyarakat Indonesia. Implan ini dirancang untuk menstabilkan patah tulang selangka agar penyembuhan berlangsung optimal.
Untuk mendorong hilirisasi dan kesiapan manufaktur, BRIN menggandeng mitra industri PT Eka Ormed Indonesia dan tim dokter spesialis ortopedi dari Departemen Medik Ortopaedi dan Traumatologi FK-UI.
Langkah berikutnya
Saat ini penelitian memasuki tahap pengembangan desain produk dan pembuatan prototipe. Rencana ke depan mencakup uji in-vivo, optimasi proses manufaktur, serta uji pra-klinis dan klinis untuk mendukung implementasi produk implan lokal di fasilitas kesehatan.
"Harapannya, penelitian ini dapat menghasilkan produk implan pelat klavikula buatan dalam negeri yang kompetitif, aman, dan mampu meningkatkan kemandirian industri alat kesehatan Indonesia,"
Integrasi inovasi metalurgi dengan kebutuhan klinis dinilai menjadi kunci agar produk tidak hanya memenuhi standar ilmiah, tetapi juga kebutuhan pasien dan sistem kesehatan nasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PPKS dan BPDP Perkenalkan Kelapa Sawit ke Siswa SD di Medan
PPKS dan BPDP mengajak siswa SD di Medan belajar kelapa sawit lewat kunjungan edukatif dan praktik di fasili...
Tahun Baru Mars 2026: Planet Merah Mulai Putaran Baru
Planet Mars resmi memasuki tahun baru pada 30 Sep 2026; satu tahun Mars setara sekitar 687 hari Bumi dan ter...
Crew-13 Meluncur ke ISS, Empat Astronot Gabung Ekspedisi 75
NASA dan SpaceX meluncurkan Crew-13 ke ISS pada 1 Oktober 2026; empat astronaut dijadwalkan bergabung dengan...
Teleskop Roman Tangkap Cahaya Pertama dari Awan Magellan Besar
Nancy Grace Roman lulus uji pandu presisi dan Coronagraph-nya menangkap cahaya pertama dari Awan Magellan Be...
Kemkomdigi Perketat Pengawasan Ruang Digital, Takedown Konten Krusial 4 Jam
Kemkomdigi memperketat pengawasan ruang digital dengan takedown konten krusial maksimal 4 jam dan mengajak p...
Keuntungan dan Risiko Investasi Emas, Harga Terbaru
Harga emas Pegadaian terkoreksi 29 Sept 2026; emas tetap jadi pilihan lindung nilai namun punya risiko seper...