5 Film Perjuangan Indonesia yang Sering Terlupakan
Lima film perjuangan Indonesia, dari era klasik hingga animasi modern, menyajikan kisah kemerdekaan yang kerap luput dari perhatian publik. Kelimanya menampilkan sudut pandang berbeda—dari pengalaman prajurit sampai perjuangan rakyat daerah. Artikel ini merangkum judul, latar, dan mengapa film-film tersebut layak ditonton ulang.
Daftar film perjuangan yang sering terlewat
-
Darah dan Doa (1950)
Film karya Usmar Ismail ini mengikuti perjalanan panjang seorang prajurit Divisi Siliwangi dalam perjalanan kembali dari Yogyakarta menuju Jawa Barat. Karya ini penting karena menghadirkan pengalaman perang dari sudut pandang prajurit, bukan semata peristiwa besar di medan perang.
-
November 1828 (1979)
Film ini berlatar Perang Diponegoro dan menampilkan perlawanan masyarakat Jawa terhadap kolonial Belanda. Selain pertempuran, cerita menyorot konflik internal, strategi, dan pengkhianatan dalam perjuangan rakyat.
-
Doea Tanda Mata (1985)
Kisah berpusat pada dua sahabat berlatar berbeda yang kemudian diuji oleh situasi politik dan perjuangan melawan penjajahan. Film ini menonjolkan aspek kemanusiaan dan hubungan antarpribadi di tengah gejolak sejarah.
-
Tjoet Nja’ Dhien (1988)
Garapan Eros Djarot ini mengangkat perjuangan Cut Nyak Dhien melawan pasukan Belanda di Aceh. Selain menampilkan perlawanan bersenjata, film menggambarkan kehidupan pribadi dan pergulatan batin seorang pemimpin pergerakan.
-
Battle of Surabaya (2015)
Berbeda dengan film sebelumnya, karya ini dikemas dalam bentuk animasi dua dimensi. Film mengikuti Musa, seorang remaja yang menjadi kurir dalam pertempuran Surabaya pada 1945, dan membuka cara baru menyajikan sejarah bagi penonton muda.
Mengapa film-film ini penting
Kelima film tersebut menawarkan perspektif yang berbeda tentang perjuangan kemerdekaan. Ada fokus pada pengalaman personal prajurit, konflik sosial, persahabatan yang diuji, hingga kepemimpinan perempuan. Karena itu, film-film ini layak mendapat perhatian lebih dari penonton dan pengajar sejarah.
Penutup
Mengangkat kembali karya-karya ini membantu melengkapi narasi sejarah yang sering didominasi judul populer. Menonton ulang film-film tersebut dapat memperkaya pemahaman generasi sekarang terhadap perjuangan bangsa. Dengan cara penyajian yang beragam, semuanya berkontribusi pada upaya menjaga ingatan kolektif tentang kemerdekaan.
Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.
Berita Terkait
Paramount Rilis Trailer Kedua 'Ebenezer' dengan Johnny Depp
Paramount rilis trailer kedua 'Ebenezer' karya Ti West; Johnny Depp kembali sebagai Ebenezer Scrooge dalam v...
Agnez Monica Akan Isi Opening Ceremony MotoGP Mandalika
Agnez Monica akan tampil di Opening Ceremony MotoGP Mandalika 2026 di Pertamina Mandalika International Circ...
Trailer Kedua Sense and Sensibility Rilis, Daisy Edgar-Jones Jadi Elinor
Trailer kedua adaptasi Jane Austen, Sense and Sensibility, dirilis 30 September 2026; Daisy Edgar-Jones meme...
Lyodra Rilis "Terkunci di Kamu" dengan 10 Lagu, Kolab Bilal
Lyodra umumkan album "Terkunci di Kamu" rilis 9 Oktober 2026, berisi 10 lagu termasuk kolaborasi dengan Bila...
MEOVV Siap Comeback dengan Single Album "GO HARD"
MEOVV akan merilis single album "GO HARD" berisi dua lagu pada 12 Oktober; rilis membawa tema pendewasaan da...
Barasuara Ungkap Proses Kreatif Lagu 'Api dan Mimpi' untuk GJLS
Barasuara mengungkap proses pembuatan lagu "Api dan Mimpi" untuk film GJLS: Berapi-Api, dimulai dari DM Rige...