IHSG Melemah 3,46% ke 6.370,68, Dana Asing Masih Jual
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68 pada Selasa, 19 Mei 2026. Pelemahan terjadi setelah tekanan jual domestik dan sentimen global, dengan nilai transaksi mencapai Rp25,3 triliun.
Pergerakan dan data perdagangan
IHSG dibuka pada posisi 6.599,21 dan sempat menyentuh tertinggi intraday 6.635,13. Namun pada sesi pertama indeks turun hingga titik terendah 6.323,26 sebelum akhirnya menutup di zona merah.
Sepanjang hari tercatat volume perdagangan sebesar 45,7 miliar lembar saham dengan frekuensi lebih dari 2,7 juta kali transaksi. Dari keseluruhan saham, 612 saham melemah, 112 menguat, dan 94 stagnan.
Perhatian pada aksi jual asing
Investor asing masih melakukan aksi jual bersih yang menjadi salah satu pemicu tekanan pada pasar. Pada perdagangan hari sebelumnya (Senin, 18 Mei 2026), IHSG turun 1,85 persen dan tercatat net sell asing sebesar sekitar Rp460 miliar.
Saham yang paling banyak dilepas investor asing hari ini antara lain:
- ANTM
- BREN
- AMMN
- ADRO
- DSSA
Sentimen global yang membebani
Pasar global turut menekan bursa domestik. Konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan biaya pinjaman.
Di Amerika Serikat, indeks teknologi turun setelah kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah. Sementara di kawasan Asia Pasifik, Nikkei 225 turun 0,97 persen, Hang Seng melemah 1,11 persen, CSI 300 turun 0,54 persen, dan Taiex merosot 0,68 persen.
"Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan biaya pinjaman, yang akan bertahan lebih lama,"
kata Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, untuk menjelaskan dampak sentimen global.
Prospek teknikal jangka pendek
Analis melihat peluang rebound teknikal dalam jangka pendek setelah beberapa hari tekanan jual. Fanny memperkirakan IHSG bergerak di rentang support 6.460–6.500 dan resistansi 6.650–6.700.
"IHSG berpotensi short term technical rebound (berbalik menguat secara teknis dalam jangka pendek),"
ujarnya.
Faktor yang perlu diwaspadai pelaku pasar
Selain konflik geopolitik dan kenaikan harga energi, pelaku pasar juga mencermati laporan keuangan perusahaan teknologi global, khususnya Nvidia, yang dapat menentukan arah reli saham teknologi pekan ini.
Di dalam negeri, perhatian investor terfokus pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 19–20 Mei 2026. Keputusan atau sinyal terkait suku bunga acuan diperkirakan akan memengaruhi sentimen pasar selanjutnya.
Dengan kombinasi tekanan jual asing, risiko geopolitik, dan data teknikal yang menunjukkan peluang rebound, pasar diperkirakan akan bergerak berhati-hati menjelang rilis data dan keputusan kebijakan penting minggu ini.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...
IHSG Diprakirakan Konsolidasi Menjelang Data Inflasi 1 Okt 2026
Pelaku pasar menunggu data inflasi BPS (1 Okt 2026); IHSG diperkirakan konsolidasi di kisaran 6.000-6.200 se...
Rupiah Menguat ke Rp17.894 Didukung Komitmen BI dan Harapan AS-Iran
Rupiah ditutup menguat 0,48% ke Rp17.894 per dolar AS, didorong pernyataan BI soal instrumen stabilisasi dan...