Ekonomi

Kemenperin-Perkosmi Perluas Rantai Pasok IKM Kosmetik

Bagikan:
Booth temu bisnis IKM kosmetik dan pertemuan calon mitra di Jakarta

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bekerja sama dengan Perhimpunan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) memperluas kemitraan dan rantai pasok untuk Industri Kecil dan Menengah (IKM) kosmetik. Inisiatif itu diumumkan di Jakarta pada 19 Mei 2026 sebagai upaya meningkatkan daya saing dan kapasitas produksi di tengah pasar yang dinamis.

Tujuan dan ruang lingkup kemitraan

Program bertujuan memperkuat ekosistem industri kosmetik nasional melalui pengembangan rantai pasok lokal dan kerja sama multipihak. Langkah ini diharapkan memudahkan akses bahan baku, jasa maklon, kemasan, serta jaringan distribusi bagi pelaku IKM.

“Industri kosmetik merupakan salah satu sektor yang memiliki prospek sangat baik karena didukung oleh permintaan pasar yang terus meningkat. Kami berharap industri ini memperluas kontribusinya terhadap ekspor dan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Data pertumbuhan dan ekspor

Kemenperin mencatat terdapat peningkatan jumlah pelaku industri kosmetik. Jumlah industri naik dari 1.292 pada 2024 menjadi lebih dari 1.500 pada akhir 2025. Sekitar 90 persen dari jumlah tersebut merupakan IKM.

Nilai ekspor sektor ini juga meningkat dari USD 417 juta di 2024 menjadi USD 473,8 juta di 2025, yang menunjukkan peluang pasar luar negeri yang terus terbuka.

Tantangan yang masih dihadapi

Meski tumbuh, pelaku IKM kosmetik masih menghadapi kendala seperti keterbatasan bahan baku lokal, akses ke jasa maklon, dan jaringan pemasaran. Kemenperin menekankan penyelesaian masalah tersebut perlu kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, akademisi, dan industri besar.

“Berbagai kendala yang dihadapi IKM kosmetik membutuhkan penyelesaian secara kolaboratif. Pemerintah pusat dan daerah, asosiasi, akademisi, industri besar hingga masyarakat memiliki peran penting dalam membangun ekosistem yang saling terhubung,” ujar Agus.

Langkah konkret dan fasilitas

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Reni Yanita, menerangkan kegiatan ini melibatkan banyak pihak untuk memperkuat hilirisasi dan pemasaran produk.

  • Pihak terkait: pemerintah daerah, asosiasi, BPOM, perguruan tinggi, lokapasar, ritel, dan industri besar.
  • Fasilitas: booth pada pre-event temu bisnis untuk mempertemukan IKM dengan calon mitra.

“Kehadiran booth ini berperan penting sebagai sarana pertemuan antara pelaku IKM dengan calon mitra bisnis. Untuk memperluas jejaring, membuka peluang kemitraan, dan menjajaki kerja sama yang berpotensi meningkatkan transaksi maupun investasi,” kata Reni.

Selain itu, pelaku IKM mendapatkan peluang mengidentifikasi kebutuhan usaha, seperti pemasok bahan baku, jasa maklon, penyedia kemasan, dan jaringan distribusi.

Tindak lanjut dan prospek

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan, menyebut 29 IKM kosmetik binaan mengikuti pre-event business matching dan telah mulai mengirimkan sampel ke calon mitra. Pendampingan akan terus diberikan untuk memastikan hasil pertemuan berlanjut menjadi kemitraan nyata.

“Kami akan terus mengawal hasil dari pertemuan bisnis ini untuk memastikan terciptanya ekosistem industri kosmetik yang mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan,” ujar Budi.

Dengan penguatan rantai pasok dan kolaborasi multipihak, diharapkan IKM kosmetik nasional dapat meningkatkan nilai tambah, memperkuat hilirisasi bahan baku lokal, dan memperbesar kontribusi terhadap ekspor.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait