DPR: Target Lifting Minyak 610 Ribu Barel per Hari Realistis
Ketua Komisi XII DPR, Bambang Patijaya, menilai target lifting minyak 610 ribu barel per hari dan lifting gas 950 ribu barel setara minyak per hari pada RAPBN 2027 realistis dan dapat tercapai. Pernyataan itu disampaikan pada Senin, 17 Agustus 2026, di Jakarta sebagai tanggapan atas paparan Presiden dalam penyampaian RAPBN 2027.
Alasan optimisme DPR
Bambang menyebut capaian produksi pada 2025 menjadi dasar optimisme legislatif. Kenaikan produksi itu menurutnya menunjukkan kemampuan sektor hulu untuk rebound setelah tekanan beberapa tahun.
“Indonesia mengalami rebound produksi pada 2025 hingga melampaui target yang ditetapkan dalam APBN.”
Dengan perbaikan itu, DPR menilai target lifting minyak dan gas pada RAPBN bisa diupayakan melalui langkah-langkah pengelolaan yang lebih efisien.
Tantangan teknis dan upaya optimasi
Bambang mengakui beberapa lapangan masih mengalami penurunan produksi secara alami. Meski demikian, pemerintah dan kontraktor dinilai masih memiliki ruang untuk mengoptimalkan sumur yang ada.
Politikus Partai Golkar itu menekankan pentingnya pemeliharaan dan pengelolaan sumur rakyat serta pengembangan lapangan baru untuk menutup penurunan alami.
“Kita sekarang ini mulai memproduksi beberapa sumur-sumur gas baru,”
Bambang menambahkan, progres lapangan gas baru menunjukkan perkembangan positif sehingga target lifting gas berpeluang tercapai.
Dampak terhadap pasokan dan ketergantungan energi
Menurut Bambang, pencapaian target lifting penting untuk memperkuat pasokan energi dalam negeri. Optimalisasi produksi di lapangan existing dinilai krusial untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga energi domestik.
“Upaya itu juga penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi dari luar negeri.”
Target lifting menjadi tolok ukur penerimaan negara dari sektor hulu karena volume yang selesai diproduksi menentukan potensi pendapatan.
Definisi lifting dan langkah ke depan
Lifting adalah jumlah volume minyak dan gas bumi yang sudah selesai diproduksi, siap dijual, dan diserahkan. Istilah ini menjadi acuan utama di sektor hulu karena berpengaruh langsung pada penerimaan negara.
Ke depan, pencapaian target RAPBN 2027 akan bergantung pada tiga faktor utama: pemeliharaan sumur eksisting, percepatan produksi lapangan baru, dan koordinasi antara pemerintah dengan pelaku usaha hulu.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.
Kemenko Hilirisasi dan Energi Diharap Percepat Transisi Energi
Imaduddin Abdullah menilai pembentukan Kemenko Hilirisasi dan Energi percepat transisi energi, hilirisasi, d...
Hilirisasi Nikel Dorong PNBP Capai Rp21 Triliun
Hilirisasi nikel mendorong ekspor USD6,54 miliar dan PNBP mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, namu...