Kesehatan

Gaya Hidup Perkotaan Picu Risiko Demensia Dini, Dokter Ingatkan

Bagikan:
Ilustrasi otak dan gaya hidup perkotaan: stres, pola makan, dan aktivitas fisik

Dokter spesialis neurologi dari Universitas Lambung Mangkurat, Dewiyana, memperingatkan bahwa gaya hidup perkotaan meningkatkan risiko demensia dini pada usia produktif. Pernyataan itu disampaikan dalam perbincangan pada Minggu, 4 Oktober 2026. Menurutnya, tekanan hidup kota—yang memengaruhi tidur, pola makan, dan aktivitas fisik—memicu penyakit yang merusak aliran darah otak dan memicu gangguan kognitif sebelum usia 60 tahun.

Tekanan hidup perkotaan dan faktor pemicu

Dewiyana menjelaskan bahwa lingkungan perkotaan menuntut hidup serba cepat dan penuh tekanan. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas tidur, pilihan makanan, dan frekuensi berolahraga.

“Gaya hidup perkotaan kan jelas stresornya lebih tinggi. Di perkotaan itu diperlukan gaya hidup yang serba cepat, penuh tekanan karena tuntutan,”

Dia melanjutkan bahwa kebiasaan makan yang mengarah pada fast food, kurang serat, serta olahraga yang jarang dilakukan memperburuk kondisi kesehatan.

“Kondisi ini mengganggu kualitas tidur. Pola makan yang maunya fast food serba cepat, kurang serat ya, olahraga mungkin sangat jarang,”

Penyakit penyerta yang meningkatkan risiko

Dewiyana menyoroti beberapa penyakit yang kini mulai muncul lebih dini dan berkontribusi pada gangguan fungsi otak. Penyakit tersebut antara lain hipertensi, diabetes mellitus, kadar kolesterol tinggi, dan penyakit jantung.

“Semua kondisi-kondisi ini, memicu kasus-kasus hipertensi di usia muda. Kemudian penyakit jantung di usia muda, diabetes melitus di usia muda,”

Menurutnya, gangguan aliran darah ke otak akibat kondisi-kondisi tersebut menjadi penyebab utama penurunan fungsi kognitif.

“Gangguan fungsi otak ini bisa paling banyak disebabkan gangguan aliran darah di sana. Bisa disebabkan karena hipertensi, kadar gula darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, atau stroke,”

Dia menambahkan bahwa pola penyakit telah bergeser ke kelompok usia lebih muda, bahkan ada laporan kasus pada usia di bawah 40 tahun.

“Sekarang mulai bergeser, jadi banyak ditemui usia-usia di bawah 50 tahun. Bahkan di bawah 40 tahun sudah mulai banyak,”

Salah satu contoh yang disebutkan adalah pasien berusia 32 tahun yang mengalami stroke setelah mengalami hipertensi selama lima tahun.

Pencegahan: perubahan gaya hidup sejak muda

Dewiyana mendorong masyarakat untuk memulai kebiasaan sehat sedini mungkin. Ia menekankan peran nutrisi, olahraga, tidur, dan interaksi sosial dalam menjaga kesehatan otak.

“Yang pertama nutrisi yang seimbang. Makan nutrisi yang seimbang itu artinya makanan yang sehat, jangan mengikuti tren,”

“Yang kedua, ini wajib nih, kalau bisa usahakan olahraga yang teratur. Dengan olahraga yang teratur itu, aliran darah di dalam tubuh kita juga lancar,”

Rekomendasi utama meliputi:

  • Mengonsumsi makanan bergizi dan seimbang
  • Melakukan olahraga secara rutin untuk melancarkan aliran darah
  • Memperbaiki kualitas tidur dan mengelola stres
  • Menjaga interaksi sosial untuk stimulasi kognitif

Dengan langkah pencegahan sejak usia muda, Dewiyana berharap kasus gangguan memori dan fungsi otak dapat ditunda atau diminimalkan. Perubahan gaya hidup sehari-hari dinilai kunci untuk menjaga otak tetap optimal di tengah tekanan kehidupan perkotaan.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait