Kesehatan

Mengenal Ikan Sidat: Omega-3 Tinggi, Potensi Pangan dan Ekonomi

Bagikan:

Ikan sidat memiliki kandungan Omega-3 sangat tinggi, bahkan disebut lebih kaya dibanding salmon, sehingga berpotensi sebagai sumber pangan bergizi dan komoditas perikanan bernilai ekonomi. Informasi ini disampaikan oleh Gadis Sri Haryani, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN.

Kandungan gizi dan manfaat

Kandungan Omega-3 pada sidat terdiri atas DHA (docosahexaenoic acid) dan EPA (eicosapentaenoic acid). DHA penting untuk perkembangan dan fungsi otak, sedangkan EPA membantu mengurangi peradangan dan menjaga kesehatan jantung.

Selain Omega-3, sidat juga mengandung protein, vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, fosfor, dan kalori. Kombinasi nutrisi ini mendukung peran sidat sebagai alternatif sumber protein hewani.

Perbedaan sidat dan belut

Meskipun sekilas mirip, sidat dan belut adalah jenis berbeda. Sidat termasuk famili Anguillidae, sedangkan belut masuk famili Synbranchidae. Perbedaan fisik yang mudah dikenali antara lain:

  • Sidat memiliki sirip punggung, sirip dada, dan sirip dubur yang berkembang; belut tidak.
  • Sirip dada sidat terletak di belakang kepala, sehingga kadang disebut belut bertelinga.
  • Sidat memiliki sisik kecil yang tersusun membujur; belut memiliki kulit berlendir tanpa sisik.

Warna tubuh sidat umumnya abu-abu gelap di punggung dan keputihan di bagian perut.

Jenis dan sebaran di Indonesia

Indonesia memiliki keanekaragaman sidat yang tinggi. Dari sekitar 18 jenis sidat di dunia, diperkirakan tujuh jenis terdapat di perairan Indonesia. Jenis-jenis tersebut dibagi berdasarkan panjang sirip punggung:

  • Sirip punggung pendek: Anguilla bicolor dan Anguilla bicolor pacifica.
  • Sirip punggung panjang: Anguilla borneensis, Anguilla marmorata, Anguilla celebensensis, Anguilla megastoma, dan Anguilla interioris.

Salah satu yang sering dimanfaatkan di Indonesia adalah Anguilla bicolor.

Siklus hidup dan ekologis

Sidat bersifat karnivora dan nokturnal; mereka memangsa organisme bentik seperti udang dan kepiting pada malam hari. Siklus hidup sidat bersifat katadromus, yaitu tumbuh dewasa di perairan tawar lalu bermigrasi ke laut dalam untuk bereproduksi.

Larva hasil reproduksi kemudian bergerak menuju estuari dan muara, mengalami metamorfosis menjadi glass eel, lalu memasuki perairan tawar untuk tumbuh sampai dewasa. Karena itu, konektivitas antara laut dan perairan tawar penting bagi kelangsungan hidup sidat.

Potensi ekonomi dan kebutuhan pengelolaan

Kandungan gizi dan nilai ekonomi sidat membuka peluang pengembangan sektor perikanan. Di beberapa negara, misalnya Jepang (yang mengenal sidat sebagai unagi), sidat menjadi komoditas penting.

Namun, pengelolaan yang berkelanjutan diperlukan. Gadis Sri Haryani mengingatkan pemanfaatan sidat sebaiknya berbasis kajian ilmiah agar pengembangan komoditas tidak mengancam kelestarian populasi di alam.

Dengan kandungan Omega-3 tinggi, ragam nutrisi, dan siklus hidup yang unik, sidat layak diperhatikan sebagai sumber pangan dan aset perikanan yang perlu dikelola berkelanjutan.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait