Hari Hewan Sedunia: 5 Penyakit Zoonosis yang Perlu Diwaspadai
Peringatan Hari Hewan Sedunia pada 4 Oktober menjadi momentum mengenali penyakit zoonosis — infeksi yang berpindah dari hewan ke manusia. Menurut World Health Organization (WHO), lebih dari 200 jenis zoonosis telah teridentifikasi. Berikut lima penyakit yang sering menular dari hewan kepada manusia, cara penularan, dan langkah pencegahannya.
Rabies: Virus yang Menyerang Sistem Saraf
Rabies disebabkan virus yang menyerang sistem saraf pusat. WHO mencatat sekitar 99 persen kasus rabies pada manusia berasal dari gigitan anjing terinfeksi. Virus menyebar melalui air liur hewan, umumnya lewat gigitan atau cakaran.
Langkah pencegahan meliputi vaksinasi hewan peliharaan dan pemberian vaksin pasca-paparan pada manusia.
Leptospirosis: Bakteri dari Urine Hewan
Leptospirosis disebabkan bakteri Leptospira yang menyebar lewat lingkungan tercemar urine hewan. Risiko meningkat saat manusia bersentuhan dengan air atau tanah yang terkontaminasi.
Penyakit ini termasuk prioritas dalam pendekatan One Health di Indonesia karena kaitan erat antara hewan, manusia, dan lingkungan.
Flu Burung (Influenza Zoonotik)
Beberapa virus influenza dapat berpindah dari unggas ke manusia. Penularan terjadi terutama saat kontak langsung dengan hewan atau produk hewan yang terinfeksi.
Deteksi dini pada populasi unggas dan pengawasan peternakan menjadi kunci mencegah transmisi ke manusia.
Antraks: Ancaman dari Lingkungan atau Hewan
Antraks adalah infeksi bakteri yang dapat menular melalui kontak dengan hewan atau lingkungan yang terkontaminasi. WHO mencantumkan antraks sebagai salah satu zoonosis prioritas di Indonesia.
Penggunaan alat pelindung saat menangani hewan sakit dan pengelolaan bangkai hewan yang baik sangat penting untuk mencegah penularan.
Salmonellosis: Bakteri pada Hewan Peliharaan
Salmonella dapat dibawa oleh hewan peliharaan atau hewan sehat tanpa gejala. CDC mencatat reptil dan amfibi sering membawa Salmonella di saluran pencernaan.
Untuk mengurangi risiko, cuci tangan setelah memegang hewan atau membersihkan lingkungan hewan.
Cara Mengurangi Risiko Zoonosis
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan masyarakat:
- Vaksinasi rutin hewan peliharaan dan pemeriksaan kesehatan berkala.
- Cuci tangan setelah berinteraksi dengan hewan atau lingkungan hewan.
- Hindari kontak dengan hewan yang sakit dan segera cari pertolongan medis setelah gigitan atau cakaran.
- Terapkan praktik kebersihan pada pengolahan makanan hewan dan produk hewani.
Upaya pengendalian zoonosis paling efektif bila dilaksanakan lintas sektor melalui pendekatan One Health, yang menggabungkan aspek kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Kepatuhan masyarakat dan pemilik hewan terhadap langkah pencegahan akan membantu menurunkan risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Mengenal Ikan Sidat: Omega-3 Tinggi, Potensi Pangan dan Ekonomi
Ikan sidat kaya Omega-3 (DHA & EPA) dan nutrisi lain, berpotensi jadi sumber pangan bergizi sekaligus komodi...
Paparan Panas Ancaman Kulit: Wardah Perkenalkan Sunscreen dengan Heat Defense
Wardah perkenalkan sunscreen dengan teknologi Heat Defense pada acara di Jakarta, 3 Oktober 2026, untuk lind...
Dinkes Jabar: Influenza Tipe A Mudah Menular dalam Keluarga
Dinkes Jawa Barat ingatkan influenza tipe A mudah menular di keluarga; isolasi mandiri dan pakai masker pent...
Nakes Tangerang Inspeksi Jajanan Sekolah untuk Cegah Pangan Tak Aman
Nakes Tangerang inspeksi jajanan sekolah untuk memastikan kebersihan, keamanan pangan, dan mendukung tumbuh...
Tangerang Waspadai Influenza Tipe A: Dinkes Imbau Orang Tua Waspada
Dinkes Kota Tangerang imbau orang tua waspada terhadap influenza tipe A; Kabupaten Tangerang melaporkan stat...
Oseltamivir Tanpa Indikasi Tingkatkan Risiko Resistensi
Penggunaan oseltamivir tanpa indikasi medis dapat memicu resistensi antivirus; masyarakat diminta konsultasi...