Pengawasan AI Perlu Diperketat untuk Cegah Penyalahgunaan
Teddy Mantoro, Direktur School of Computer Science (SoCS) Universitas Nusa Putra, memperingatkan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap pengembangan dan penggunaan kecerdasan buatan (AI). Pernyataan itu disampaikan pada 4 Oktober 2026 terkait meningkatnya kasus peretasan dan penyalahgunaan teknologi AI yang berpotensi membahayakan publik.
Ancaman nyata dari penyalahgunaan AI
Teddy menyoroti beberapa insiden yang menunjukkan kecanggihan AI bisa disalahgunakan jika tidak diawasi. Ia memberi contoh kasus yang pernah melibatkan perusahaan teknologi global dan lembaga pemerintah, sebagai bukti bahwa risiko tersebut bukan spekulasi.
"Kasus seperti ini banyak terjadi, termasuk yang melibatkan Anthropic dan lembaga pemerintah di dunia intelijen Amerika Serikat,"
Menurutnya, insiden-insiden itu menuntut respons serius dari pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk menutup celah penyalahgunaan.
Perbedaan sistem keamanan pada model AI
Teddy menjelaskan setiap Large Language Model (LLM) memiliki pola kerja dan mekanisme pengamanan yang berbeda. Beberapa model menerapkan pembatasan ketat terhadap konten sensitif seperti kekerasan, terorisme, dan informasi yang mengancam keamanan publik.
Perbedaan ini membuat tingkat keamanan tiap model tidak selalu sama. Akibatnya, potensi respons menyimpang atau kesalahan logika masih mungkin muncul meski ada filter dan mekanisme pengamanan.
"Potensi AI masuk ke dalam logika yang keliru masih sangat besar hingga saat ini, sehingga pengawasan tidak boleh diabaikan,"
Risiko penggunaan AI untuk pengembangan senjata
Teddy juga memperingatkan kemungkinan AI dipakai untuk mengembangkan senjata pemusnah massal. Ia menyebut eksperimen beberapa tahun terakhir menunjukkan kemampuan AI menghasilkan informasi teknis terkait senjata kimia.
"Hal tersebut sangat mungkin terjadi, karena tiga tahun lalu AI sudah mampu menghasilkan algoritma terkait senjata kimia dalam waktu singkat,"
Ia menambahkan, dalam sebuah percobaan, AI mampu memproduksi ratusan algoritma dalam waktu satu jam, yang mempertegas urgensi pengawasan.
Rekomendasi: pengawasan sejak tahap pengembangan
Teddy menekankan pengawasan harus dimulai sejak fase desain dan pengembangan. Langkah ini meliputi standar keamanan, audit independen, dan regulasi yang jelas untuk penggunaan LLM pada sektor sensitif.
Ia mengajak pembuat kebijakan, pengembang, dan masyarakat untuk bersama mencegah penyalahgunaan teknologi. Tanpa koordinasi dan aturan yang tegas, risiko yang ditimbulkan AI bisa melampaui manfaatnya bagi publik.
Implikasi: Kebijakan dan mekanisme pengawasan yang lebih kuat dianggap perlu agar perkembangan AI tetap selaras dengan keselamatan dan kepentingan publik.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
James Webb Ungkap Jejak Tabrakan Pembentuk Planet Muda
James Webb menemukan jejak tumbukan besar pada sistem bintang muda, membantu memahami proses pembentukan pla...
Dilema Bimbel vs Kemandirian Siswa Dibahas di IIBF 2026
Diskusi IIBF 2026 mengupas dilema bimbel komersial dan pentingnya kemandirian belajar dengan buku panduan be...
Kecemasan Ujian Bikin Blank, Taktik Soal Dibahas di IIBF 2026
Pakar dan pelajar di IIBF 2026 membahas bagaimana kecemasan ujian memicu reaksi biologis, serta strategi nap...
Erlangga Luncurkan Program Final Sprint TKA di IIBF
Erlangga meluncurkan program Final Sprint TKA pada 1 Oktober 2026 di IIBF untuk persiapan masuk PTN, dengan...
Midea Indonesia Perkuat Produksi Lokal dan Teknologi AI
Midea Indonesia memperkuat manufaktur lokal, meluncurkan ekosistem AI SMART MASTER, dan perluas distribusi s...
PPKS dan BPDP Perkenalkan Kelapa Sawit ke Siswa SD di Medan
PPKS dan BPDP mengajak siswa SD di Medan belajar kelapa sawit lewat kunjungan edukatif dan praktik di fasili...